Tampilkan postingan dengan label Cerita Makan dan Jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Makan dan Jalan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Agustus 2016

Jangan Berjanji di Kaki Bromo

Hari Lentho memeras otak merancang pementasan Sendratari Roro Anteng dan Joko Seger. Tari yang dipentaskan pada malam upacara Yadnya Kasada itu ia persiapkan dua bulan lamanya. Sebanyak 43 anak-anak Suku Tengger dilibatkan dalam sendratari yang mengisahkan asal usul ritual Yadnya Kasada. “Tidak boleh ada satu adegan pun yang dihilangkan dalam alur cerita, semua harus ditampilkan utuh,” terang seniman asal Surabaya itu. Pemeran anak-anak Roro Anteng dan Joko Seger juga harus genap 25 anak. Tidak boleh kurang apalagi lebih.

Kasada adalah upacara wajib yang pantang ditinggalkan masyarakat Suku Tengger. Upacara ini merupakan perwujudan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi atas limpahan rezeki yang telah mereka terima. Tanah di sekujur Bromo memang terkenal sebagai tanah yang kaya unsur hara. Segala macam tanaman buah dan sayur tumbuh subur memberi hasil panen yang menggembirakan. 

Itulah sebabnya meski Gunung Bromo tengah erupsi dan berstatus Waspada sejak lima bulan terakhir, kondisi itu tak menghalangi digelarnya Kasada. Kasada adalah entitas masyarakat Tengger yang terus dilestarikan.

Nilai-nilai hakiki masyarakat adat Tengger, menurut Hari, tertuang dalam sendratari Roro Anteng dan Joko Seger. Tugas utamanya adalah menyampaikan nilai-nilai moral dalam pementasan berdurasi 30 menit. Nilai menonjol yang harus dicontoh dari suku Tengger adalah menyatunya perilaku, ucapan, dan hati. “Masyarakat Tengger dilarang berjanji karena kisah Roro Anteng dan Joko Seger berawal dari janji yang tidak ditepati,” ujar Hari berkisah usai pementasan.

Bagi masyarakat Tengger, menyatunya hati, ucapan, dan pikiran adalah nilai hidup yang tak bisa ditawar. Foto: AFP/Juni Kriswanto

Selama enam tahun membersamai masyarakat Tengger, seniman tari ini menyerap banyak kearifan lokal. Pernah ketika hendak pulang ke Surabaya, ia berkata akan kembali lagi ke Desa Ngadisari, desa terujung yang paling dekat dengan puncak gunung. Warga setempat buru-buru mengingatkan agar Hari meralat ucapannya. “Jangan berjanji,” ucapnya menirukan nasihat warga desa.

Demikian pula  pada persiapan sendratari kali ini. Hari memastikan tak ada satu adegan pun dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang ia pangkas. Penyampaian kisah yang utuh dimaknai sebagai pesan agar siapapun senantiasa menyampaikan kebenaran secara menyeluruh.

Beberapa waktu silam, Gunung Bromo sempat bergejolak dan memuntahkan hujan abu. Konon, masyarakat adat Tengger meyakini kehadiran rombongan mahasiswa KKN dari sebuah perguruan tinggi menjadi penyebab Bromo rewel. Mahasiswa mengajarkan anak-anak sendratari namun menghilangkan adegan pernikahan Roro Anteng dan Joko Seger.


Sendratari Roro Anteng dan Joko Seger pada Kasada 20 Juli 2016. Foto: dokumentasi pribadi

Vina Salviana dalam buku Agama Tradisional: Potret Kearifan Hidup Masyarakat Samin dan Tengger menjelaskan konsep hidup masyarakat adat Tengger. Konsep hidup masyarakat adat Tengger adalah mengikuti ajaran tentang sikap hidup dengan sesanti panca setya. Ajaran tersebut meliputi setya budaya (taat, tekun, mandiri), setya wacana (setia pada ucapan/perkataan), setya semaya (setia/menepati janji), setya laksana (patuh dan taat), dan setya mitra (setya kawan). Ajaran ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat adat Tengger.

Perilaku dan tindakan anggota masyarakat adat Tengger selalu diusahakan tidak melanggar adat istiadat dan aturan-aturan yang ada. Adapun aturan-aturan yang harus ditaati adalah tidak menyakiti atau membunuh binatang kecuali untuk korban dan dimakan, tidak mencuri, dan tidak berdusta. Tidak melakukan perbuatan jahat dan tidak minum minuman yang memabukkan.

Penulis lain dalam buku yang sama, Muhammad Hayat, mengemukakan ritual-ritual yang dilakukan masyarakat adat Tengger pada dasarnya adalah keinginan mereka agar alam tidak murka. Bagi mereka, kebutuhan agar tetap bertahan hidup yang bisa menyediakan adalah alam. Maka secara ekonomis tindakan rasional yang harus dilakukan adalah menyeimbangkan diri dengan alam.

Akibat ditegakkannya nilai-nilai luhur dan adat istiadat, angka kriminalitas di kalangan Suku Tengger mencapai nol persen. Maka jangan heran jika kabar kejahatan tak pernah berembus di lingkungan desa suku Tengger. “Jika ada yang melanggar aturan dipercaya akan memperoleh karma,” kata petinggi Desa Ngadisari, Supoyo. Karma apa yang akan diperoleh, tidak ada yang mengetahui secara pasti. Supoyo mengatakan karena patuhnya masyarakat Tengger, ia belum pernah mendapati ada warga desanya yang terkena karma. 

Dinginnya hawa di Bromo membuat masyarakat tak bisa lepas dari sarung dan penutup kepala. Foto diambil dari sini

Kekeramatan Gunung Bromo diawali dari cerita Roro Anteng dan Joko Seger. Alkisah, pasangan suami istri yang merupakan keturunan Kerajaan Majapahit ini memohon kepada Tuhan agar diberikan keturunan. Usia pernikahan mereka yang sudah berlangsung lama terasa gersang tanpa kehadiran buah hati.

Setelah berulang kali berdoa dan bersemedi, Tuhan mengabulkan permintaan pasangan ini. Namun ada satu syarat yang harus dipenuhi. Roro Anteng dan Joko Seger harus mempersembahkan anak terakhir mereka ke kawah Gunung Bromo. Keduanya menyanggupi syarat tersebut dan pasangan ini dikaruniai 25 anak. Sesuai janji yang sudah mereka ucapkan sebelumnya, anak terakhir yang bernama Kusuma harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.

Namun selayaknya orang tua, suami istri ini tak sampai hati merelakan anaknya dikorbankan ke kawah. Roro Anteng dan Joko Seger mengingkari janjinya. Keingkaran ini harus dibayar mahal. Sekonyong-konyong Gunung Bromo memuntahkan lava dan menimbulkan bencana. Langit diselimuti awan mendung disertai kilat yang tak berhenti menyambar. Roro Anteng dan Joko Seger bersimpuh ketakutan di lautan pasir memohon ampun kepada Sang Hyang Widhi atas kelancangan mereka.

Petir lantas menjilat tubuh Kusuma dan melemparkannya ke kawah Bromo. Bersamaan dengan lenyapnya Kusuma terdengarlah suara gaib. “Saudara-saudaraku, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Sang Hyang Widhi untuk menyelamatkan kalian semua. Hiduplah dengan damai dan sembahlah Sang Hyang Widhi. Aku ingatkan agar kalian mengadakan sesaji berupa hasil bumi setiap hari ke-14 bulan Kasada sebagai persembahan kepada Sang Hyang Widhi ke kawah Gunung Bromo,” demikian ucapan Kusuma sebagaimana diyakini masyarakat adat Tengger.

Upacara Yadnya Kasada tak boleh ditinggalkan meski Gunung Bromo tengah batuk-batuk. Foto diambil dari situs ini.

Cerita Roro Anteng dan Joko Seger dipercaya sebagai asal usul masyarakat Tengger. Jumlah keturunan Roro Anteng dan Joko Seger terus bertambah dan menghuni perdesaan di Kaki Gunung Bromo. Secara administratif  masyarakat Tengger tersebar di empat kabupaten yaitu Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Desa paling tinggi dan paling dekat dengan kawah Bromo adalah Desa Ngadisari di Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo. Kata Tengger ini sekaligus mengandung makna Tenggering Budi Luhur alias pengenalan moral tinggi. Ketaatan terhadap adat istiadat menjadi pengendali segala aspek kehidupan masyarakat Tengger.

Masyarakat Tengger adalah masyarakat yang terbuka terhadap perubahan tanpa meluluhkan adat istiadat yang sudah ada. Kondisi ini tercermin dari masih dipegangnya aturan-aturan adat di tengah maraknya pengembangan kawasan Bromo sebagai destinasi wisata. Pembangunan hotel serta membanjirnya wisatawan dari luar daerah dan mancanegara tak lantas membuat masyarakat lupa akan tradisi.

Selasa, 04 Agustus 2015

Sketsa dari Pantura

Mobil berjalan lambat di atas aspal panas Pantura. Waktu menunjukkan pukul 12.35 yang artinya sudah lebih dari 12 jam kami menempuh perjalanan. Saya duduk di kursi belakang dan sibuk berselancar di dunia maya untuk membunuh waktu. Raul dan temannya duduk di bangku depan. Dua warga Spanyol itu berkali-kali melempar pertanyaan yang sama kepada sopir: Berapa jam lagi kita tiba di Jogja?

Pria di balik kemudi selalu menggelengkan kepala setiap kali dua warga asing itu resah. Sang sopir sendiri juga tak tahu kapan rombongan kami akan tiba di Kota Gudeg. Mobil kami berjalan amat pelan di antara mobil, motor, bus, dan bahkan truk. Lebaran tinggal dua hari lagi dan ratusan ribu pemudik merangsek ke jalan demi pulang ke kampung halaman. Inilah yang disebut sebuah harian di ibukota dengan headline: RI's Biggest Exodus Begins.

Mobil Nissan yang membawa enam penumpang dan satu sopir ini beranjak dari Jakarta pukul 12 malam. Dua belas jam kemudian, dengan tertatih-tatih, kami sampai di Brebes. Kaki saya mulai bengkak karena kurang bergerak.

Dua turis Spanyol, yang tak kebagian tiket pesawat ke Jogja, melempar pandangan heran ke arah jalan. Teman Raul mengeluarkan smartphonenya dan menjepret pemandangan para pemudik motor. Bagi dua warga asing itu, orang-orang Indonesia adalah orang pemberani. Orang Indonesia rela mengendarai motor sarat muatan dan mengajak anak istrinya menempuh perjalanan jauh. Mungkin bagi Raul dan kawannya, mudik adalah kegiatan yang absurd.
 

Hembusan dingin dari AC rupanya tak mampu meredakan kegalauan kami. Apalagi sejak berangkat kami belum sekali pun berhenti makan bahkan sekadar untuk menyantap sahur. Beruntung saya membawa bekal nasi sehingga meski sopir tidak berhenti di rest area saya tetap bisa sahur.

Sopir tak henti-hentinya menenggak Red Bull sambil bersungut-sungut. Saya hitung sejak berangkat hingga saat ini ia menghabiskan empat botol. Empat botol minuman berenergi tanpa tidur dan makan nasi selama 12 jam, buat saya ini seperti upaya menyakiti diri sendiri.

Pukul 12.44 sopir nampaknya benar-benar lelah. Akhirnya ia mengarahkan mobil ke warung sate. "Makan dulu mister," kata pak sopir sambil menguncupkan telapak tangan dan mengarahkan ke mulutnya sendiri. Aroma sate kambing langsung menyeruak ketika kami turun dari mobil.

Warung sate sederhana yang kami singgahi ramai didatangi para pemudik. Rata-rata para pemudik tidak berpuasa karena tidak kuat menahan hawa panas Pantura. Menembus kemacetan di kala puncak arus mudik memang sangat menguras tenaga. Saya, yang memutuskan untuk tetap berpuasa, memesan seporsi sate kambing plus nasi untuk berbuka.

"Berapa?" tanya saya ketika pelayan menyodorkan pesanan.
"Empat puluh empat ribu mbak," jawab si pelayan.
"Apa?" mata saya terbelalak mendengar harga yang fantastis itu.
"Seporsi sate empat puluh ribu, nasinya empat ribu," kata pelayan tak acuh.

Istirahat siang selesai, sopir kembali menggiring para penumpang masuk ke dalam mobil. Raul mengendikkan bahu kepada kawannya seolah keberatan jika harus menenggelamkan diri lagi ke dalam kemacetan. Sebaliknya, dua asisten rumah tangga yang duduk di sebelah saya tak tampak mengeluh. Bagi mbak-mbak itu, segala cara pantas dibayar asalkan bisa berlebaran di kampung halaman. Sedangkan bagi Yanto, penumpang yang sehari-hari bekerja menjaga toko di Roxy,  macet pun tak masalah asalkan H-1 ia bisa sampai di rumah.

"Supaya masih ada waktu mengecat rumah sebelum Lebaran, bapak dan simbok sudah tidak kuat lagi kalau kerja yang berat-berat," ujar Yanto.

Rute Brebes-Pemalang-Pekalongan benar-benar jadi rute yang menguji kesabaran. Pemberitaan bahwa ekonomi Indonesia melambat sehingga daya beli menurun tidak terbukti di ruas Pantura menjelang Lebaran. Bukan sekali dua kali saya melihat mobil yang masih mengkilap dengan plat nomor berwarna putih berseliweran. Jumlah mobil semakin membeludak sementara penambahan infrastruktur tak sebanding dengan laju pertumbuhan kendaraan.

Sekitar pukul sembilan malam akhirnya kami lepas dari Pekalongan dan masuk Weleri. Semua orang di dalam mobil menunjukkan raut wajah yang lelah. Namun wajah yang lelah itu kembali segar setelah kami berhenti makan malam di Temanggung. Pertama, makan memang mengembalikan energi. Dan kedua, Jogjakarta sudah semakin dekat. Saya melahap sate kambing dengan rakus karena buka puasa tadi hanya meminum air putih dan agar-agar. Sayangnya saya harus menelan kekecewaan karena separuh dari sate adalah lemak yang sudah tak nikmat jika disantap dingin. Ditambah lagi nasi yang saya terima sangat keras dan membuat saya melotot waktu menelannya.

Makan malam usai dan perjalanan kembali dilanjutkan. Akhirnya setelah menempuh perjalanan 24 jam, mobil kami tiba di Yogyakarta. Berhari-hari kemudian ketika saya sudah di Jakarta lagi, seorang teman bertanya, "Tahun depan masih mau mudik pakai travel?"

Senin, 29 Juni 2015

Rindu yang Mengganggu

Ramadhan sudah memasuki hari kedua belas. Pekan lalu di seberang telepon, ibu kembali bertanya kapan saya pulang. Saya pun (kembali) melontarkan jawaban yang sama: belum tahu karena masih menunggu jadwal libur kantor.

Sudah delapan bulan saya tidak pulang. Untuk jarak seukuran Jakarta - Yogyakarta dan dengan menyandang status belum berkeluarga, sesungguhnya 'pulang ke rumah' bukanlah sesuatu yang rumit. Kecuali urusan pekerjaan, tidak ada beban berarti yang menghalangi saya untuk pulang sewaktu-waktu.

Sayangnya sebagai anak baru saya belum mendapat jatah cuti. Jadwal liputan, meski tidak setiap hari, tapi mengharuskan para reporter untuk stand by sewaktu-waktu. Anak-anak media pasti tahu bagaimana rasanya ketika sedang asyik bersantai tahu-tahu redaktur yang tercinta memberi order liputan. Maka dengan jatah libur yang singkat dan terbatas, saya jadi malas untuk pulang ke rumah.

Jatah libur lebih sering saya gunakan untuk berkumpul dan jalan bersama teman-teman. Mumpung masih free tidak ada salahnya kami rajin mengeksplor tempat-tempat menarik di Jakarta dan sekitarnya.

Tapi sebahagia-bahagianya saya di Jakarta, rasa kangen untuk pulang akhirnya datang juga. Sudah sejak dua bulan lalu saya kepingin buru-buru menghirup lagi hawa Yogyakarta. Saya kangen rumah sederhana di kaki Gunung Merapi tempat keluarga kecil kami tinggal. Saya kangen suara kokok ayam di pagi hari yang diiringi hawa dingin menusuk kulit.

Saya rindu jalanan rindang di Kotabaru-Lempuyangan-Gayam, tempat di mana saya menghabiskan dua puluh tahun pertama dalam hidup. Saya ingin merasakan lagi jajanan Yogyakarta yang serba murah dan meriah.


Sudut di Yogyakarta yang instagramable dan paling banyak diabadikan

Yogyakarta memang telah berganti rupa. Ia tak lagi menjadi puteri Keraton yang ayu dan sederhana. Tubuhnya kini telah digantungi perhiasan-perhiasan gemerlap berupa deretan mall-mall mewah, hotel berbintang, dan tempat hiburan malam. Yogyakarta perlahan menjelma menjadi gadis metropolitan. Meski demikian masih banyak sudut-sudut bersahaja di Yogyakarta yang menawarkan nostalgia.

Tapak kaki kuda masih setia beradu dengan aspal Malioboro, segelas es teh masih bisa ditebus dengan harga Rp 3 ribu rupiah, dan kita dengan betahnya ngetem lama di angkringan walau hanya berbekal nasi kucing dan sate usus. Betapa ngangeninya kesederhanaan di Yogyakarta.


Siomay Kotabaru, salah satu kuliner enak dan ramah kantong di Kota Pelajar

Di Jakarta semua serba bayar dan serba mahal. Untuk membeli sebotol minuman dingin di convenience store saja kita ditarik jatah parkir Rp 2 ribu. Tetapi bagaimanapun, kota ini adalah tempat saya mencari sesuap nasi. Si bijak berkata jangan meludah di sumur yang airnya kita minum. Jakarta, dengan semua sisi gelap dan terangnya sudah banyak memberi pelajaran dan penghidupan kepada saya.

Buat para pendatang, kampung halaman tentu memiliki tempat tersendiri di hati. Lebaran tahun ini saya harus pulang. Yang lama. Sebahagia-bahagianya saya di Jakarta, rasa kangen untuk pulang akhirnya datang juga.

Senin, 25 Mei 2015

Secuil Surga di Utara Jakarta


Suatu hari surga sedang bocor. Langit meneteskan bulir-bulir air dari sungai di surga. Tetesan-tetesan air tersebut jatuh tak beraturan di Laut Jawa dan menjelma menjadi pulau-pulau kecil. Begitu banyaknya tetesan air yang jatuh hingga terbentuklah gugusan pulau yang kini dikenal dengan Kepulauan Seribu.

Itulah sebait deskripsi tentang Kepulauan Seribu yang pernah saya baca. Sang penulis nampaknya benar-benar terkesima akan keindahan Kepulauan Seribu hingga menyamakannya dengan tetesan air surga. Untuk membuktikannya, beberapa waktu lalu saya dan teman-teman menyempatkan diri mengintip keindahan kepulauan di utara Jakarta itu. Dalam sebuah open trip selama dua hari satu malam, kami menghabiskan waktu mengeksplorasi berbagai pulau di Kepulauan Seribu.

Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Muara Angke. Kapal yang kami tumpangi berangkat sekitar pukul 08.00. Tujuan kami adalah Pulau Kelapa yang ditempuh selama tiga jam perjalanan. Selama satu jam pertama kami masih disuguhi perairan yang penuh limbah dan sampah. Mustahil kami dapat menyelam di laut sekotor ini.

Namun lamanya perjalanan sebanding dengan keindahan yang kami dapatkan. Menjelang pukul 10.00 suasana sudah mulai berubah. Warna air laut yang tadinya hitam kini berangsur membiru. Sejauh mata memandang kami disuguhi permukaan air laut yang tenang dan bersih. Sesekali nampak bintik kecil di kejauhan tanda adanya pulau kecil tak jauh dari kapal kami.

Begini kira-kira penampakan pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu

Tepat pukul 11.00 rombongan menginjakkan kaki di Pulau Kelapa. Kami memperoleh sebuah rumah kosong dengan dua kamar tidur sebagai homestay. Rombongan disambut makan siang berupa sayur asem, ikan kembung, dan sambal. Satu teko besar es kelapa muda tak ketinggalan nangkring di meja makan. Usai melahap santap siang dan sholat, kami digiring menuju lokasi snorkeling.

Untuk menuju lokasi snorkeling, kami diajak naik kapal yang lebih kecil. Teriknya matahari tak menyurutkan semangat kami, para wisatawan, untuk mengarungi lautan. Lokasi pertama snorkeling adalah Pulau Macan. Awalnya saya takut-takut menceburkan diri ke laut. Meski sudah memakai jaket pelampung, tetap saja saya paranoid. Air laut yang berwarna biru tua menandakan betapa dalamnya perairan di situ. Menurut Pak Nurdin yang jadi guide kami, kedalaman airnya antara 5-10 meter. Masih cetek sebenernya untuk ukuran menyelam. Memang dasar saya saja yang penakut.

Tetapi akhirnya saya berani juga terjun ke laut. Dan begitu membenamkan kepala ke dalam air, terlihatlah keindahan bawah laut Kepulauan Seribu. Ikan-ikan seukuran ibu jari yang saya tidak tahu namanya hilir mudik berenang dalam gerombolan-gerombolan kecil. Ikan-ikan lain yang lebih besar berenang sendirian di antara terumbu karang. Berkali-kali saya mencoba menyentuhkan tangan ke arah mereka namun selalu meleset karena geraknya yang gesit.

Puas menyelami perairan Pulau Macan, kami lalu bergeser ke lokasi kedua yakni ke perairan dekat Pulau Bintang. Perairan Pulau Bintang menawarkan pemandangan bawah laut yang lebih eksotis. Ikan-ikan yang berenang lebih banyak dan lebih berwarna-warni. Saya sengaja melepas fin (kaki katak) saat snorkeling di sini. Daan...ternyata itu pilihan salah karena kaki saya terluka akibat tergores-gores tajamnya terumbu karang. :p

Di perairan dekat Pulau Bintang
Semakin ke utara ekosistem yang hidup semakin membikin kita berdecak kagum. Kalau di utara Jakarta saja kita sudah terkagum-kagum, apalagi jika kita main ke Bunaken atau Wakatobi ya? Bisa-bisa ogah pulang. Sayangnya di dua lokasi snorkeling tersebut, saya mendapati banyak terumbu karang yang 'terluka'. Mungkin terumbu-terumbu karang itu sering dijadikan pijakan oleh para wisatawan tatkala menyelam. :(

Usai ber-snorkeling ria, kami menuju ke sebuah pulau cantik (yang lagi-lagi saya lupa nama pulaunya). Di pulau ini kami dibebaskan melakukan aktivitas apa saja. Mau berenang, main ayunan, makan, gitaran, atau main voli sekalian, terserah. Bagi yang perutnya keroncongan bisa membeli makanan di warung yang ada di situ. Tapi jangan banyak maunya ya karena yang tersedia hanya mie instant, gorengan, roti, dan minuman-minuman sachet. :)

Pukul 17.00 kami beranjak untuk kembali ke Pulau Kelapa. Sepanjang perjalanan, kami dimanjakan dengan pemandangan langit sore yang indah. Langit perlahan memerah tanda siap mengantar matahari pulang ke rumah. Malamnya, para wisatawan disuguhi hidangan seafood bakar. Kami berlomba menyantap cumi-cumi dan udang sepuasnya. Yeay!

Esok paginya, kami kembali mengangkat sauh menuju Pulau Bulat. Konon kabarnya pulau ini adalah milik keluarga mantan Presiden Soeharto. Sebuah helipad menjadi petunjuk bahwa pulau ini menjadi destinasi keluarga Cendana jika ingin berlibur. Tidak ada yang istimewa di pulau itu. Tetapi ada satu spot istimewa di dekat dermaga yang manis dijadikan tempat berfoto. Spot itu berupa bangku taman di ujung dermaga. Bangku itu hanya diletakkan sendirian membelakangi laut. Kurang melankolis apa coba?

Setelah mengelilingi Pulau Bulat kami kembali ke Pulau Kelapa dan bersiap-siap pulang ke Jakarta. Perjalanan singkat ini cukup melelahkan tetapi semua sebanding dengan kepuasan yang didapat. Soal biaya, saya merogoh kocek Rp 350 ribu untuk open trip selama 2 hari 1 malam. Karena berlibur di kala peak season maka saya dan teman-teman harus rela berdesak-desakan dengan banyak rombongan di kapal yang sempit. Di hari keberangkatan kami masih beruntung karena bisa duduk lesehan di lambung kapal.

Tetapi ketika pulang, kami datang terlambat ke dermaga sehingga mau tak mau pantat ini didudukkan di kapal bagian samping yang sejatinya bukan tempat penumpang. Bagian tersebut adalah gang sempit yang berada di kapal bagian luar. Alhasil saya harus menahan panas disiram sinar matahari bersuhu 30 derajat Celcius selama tiga jam. Maklum, kapal berangkat dari dermaga Pulau Kelapa saat tengah hari, tepat pukul 12.00.

Anyway, saya tetap menikmati perjalanan mengesankan ini. Alam Indonesia sudah bermurah hati memberikan banyak keindahan dan kesuburan. Amat disayangkan kalau kita tidak pernah menyempatkan waktu menikmatinya.

Rabu, 13 Mei 2015

Goyang Lidah ala Kedai Kita

Kalau Jakarta adalah semangkuk bakso pedas, maka Bogor adalah segelas es jeruk yang mendinginkan tenggorokan. Dalam keseharian jalanan Jakarta yang padat dan serba terburu-buru, Bogor adalah tempat yang cocok untuk mencari hawa yang lebih segar. Apalagi di Bogor saya menemukan tempat makan yang enak. Namanya Kedai Kita.

Berawal dari agenda mencari kost-kostan baru buat teman saya, Tika, kami berdua menemukan kedai ini tanpa sengaja. Kedai Kita terletak di Jalan Pangrango 21 Bogor. Posisinya nggak jauh dari Taman Kencana. Salah satu yang membuat kami memutuskan mencoba Kedai Kita karena melihat antreannya yang panjang. Serius, panjang banget waiting listnya. Mungkin karena saat itu sedang weekend makanya banyak orang pengen jajan ya? Tapi mana mungkin orang rela menunggu lama-lama kalau bukan karena makanannya yang enak?




Ini nih penampakan Kedai Kita

Menu yang paling harus dicoba banget di Kedai Kita adalah pizza kayu bakar. Ada beberapa varian pizza kayu bakar yang semuanya bikin ngiler. Pizza kayu bakar ala Kedai Kita disajikan dalam keadaan panas dan garing. Roti pizzanya tipis ditimpa topping yang tebal. Rasanya minta ampun enaknya. Cocok disantap di tengah hawa Bogor yang adem.

Favorit saya adalah Hawaiian Pizza. Cita rasa paprika, nanas, dan smoked beef bercampur jadi satu membuat kita kenyang tapi enggak bikin eneg. Saya juga memesan sapo tahu (atau tofu? lupa pokoknya itulah). Rasa sapo emang nggak ada yang istimewa tapi gurih dan segernya sapo patut dicoba.

Kenikmatan makan di Kedai Kita bikin saya dan Tika ketagihan buat datang lagi ke sana. Saya memesan calzone dan mie sapi lada hitam saat kali kedua saya ke Kedai Kita. Pesanan yang pertama datang adalah calzone (alias pastel raksasa kao menurut saya :P). Kami berdua memesan calzone yang berisi smoked beef dan keju. Soal rasa, nggak kalah sama Hawaiian Pizza. Ada sensasi bahagia ketika kami memotong calzone dan melihat daging serta keju berhamburan keluar (lebaaay!).


Calzone sist!


Lanjut ke menu kedua adalah mie sapi lada hitam yang disajikan dalam hot plate. Menu ini jadi andalan Kedai Kita karena ditulis besar-besar di papan tulis kedai. Dan ternyata promosi itu enggak bohong. Mie ini enak! Mienya nggak kematengan dan rasa rempahnya kerasa banget. Seporsi mie lada hitam kalo buat saya banyak banget tapi kok ya habis juga. Padahal sebelumnya juga udah diganjal pake calzone. Duh...

Mie Sapi Lada Hitam rasanya juaraaa...


Kedai Kita menjual beragam menu lain seperti steak, nasi goreng, dan pasta. Tapi yang jadi andalah adalah pizza kayu bakar dan mie lada hitam. Kalau soal minuman standar aja sih. Sebangsa es teh, es jeruk, atau jus buah. Oiya kalau ke Kedai Kita jangan pas laper-laper banget ya. Soalnya bakal antre panjang. Keburu semaput kalau nunggunya kelamaan. Atau kalau nggak mau kena waiting list jangan dateng waktu weekend atau hari libur.

Range harga makanan dan minuman di Kedai Kita menurut saya sebanding sama rasanya. Makanan rata-rata 30 ribuan dan buat pizza kayu bakar dibanderol 70 ribuan. Masih murahlah karena pizzanya bisa dimakan bareng-bareng dan bayar patungan.

Kedai Kita diapit oleh banyak restoran dan tempat makan yang lucu-lucu. Ada restoran India, restoran khusus coklat, warung makan klapertaart, dan lain-lain. Jalan Pangrango emang dikenal sebagai destinasi kuliner dan menawarkan pengalaman makan yang beragam.

Buat yang sumpek sama hawa Jakarta bolehlah sekali-sekali meluncur ke Bogor. In my humble opinion, Bogor lebih ramah ketimbang Jakarta. Kita masih bisa merasakan sejuknya pepohonan dan jalan di trotoar dengan tenang. Cocok buat kita-kita yang hobi jalan kaki. Jadi, selamat jajan di Bogor yaa~~

Selasa, 21 April 2015

Berburu Tiket Mudik

Kita semua tau kalo berburu tiket mudik jurusan Jakarta ke Jateng dan Jatim itu sulit. Tapi setelah saya ngalamin sendiri berburu tiket kereta mudik dan arus balik, ternyata ga cuma sulit tapi juga ngeselin.

Terlalu besarnya populasi orang Jawa di Jakarta bikin perjuangan mencari tiket pulang menjadi sangat complicated. Lebaran masih besok Juli. Masih ada tiga bulan tersisa tapi seperti biasa PT KAI udah mulai menjual tiket kereta api. Tahun ini, saya memutuskan bergabung dengan gerombolan mereka yang mencari tiket kereta api.


Kereta api aku padamu! (Foto diambil dari sini)





Saya emang ngebet banget pengen mudik naik kereta. Taun lalu saya udah mudik pake pesawat dan taun ini saya pengen ngirit. Kalo membayangkan mudik pake bus atau travel rasanya udah males banget. Macetnya itu lho....

Pukul 23.38 saya udah menyalakan laptop bersiap-siap menyongsong dibukanya penjualan tiket. Kalo sesuai jadwal, tiket online bakal dibuka pukul 00.01. Sebentar-sebentar saya melirik penunjuk waktu yang ada di pojok kanan laptop. Tepat pukul 00.00 saya langsung tancap gas mengetikkan tanggal dan stasiun di laman pemesanan tiket online. Kebetulan banget koneksi internet sedang sangat kooperatif. Jadi loadingnya juga cepet.

Tapi apa daya saudara-saudara, ternyata setelah saya selesai menulis nama, nomor KTP, dan no handphone di sana tertera kalo kursi udah penuh. Whattt??? Ini nggak mungkin bangetlah. Saya udah cepat-cepat ngetik dan meng-klik tombol enter. Tapi ternyata PT KAI mengkhianati perjuangan si anak rantau yang satu ini.

Mana mungkin...mana mungkin dalam waktu kurang dari 30 detik tiket langsung ludes. Emang orang-orang di luar sana nggak pada ngetik apa? Lagipula kami sudah bagi tugas. Ada yang pesan tiket ekonomi, bisnis, dan eksekutif. Mana yang bisa dapat itu yang kami beli.

Di tengah malam yang hening saya dan dua teman kost sesama pemburu tiket mencak-mencak nggak keruan. Selama satu jam ke depan kami masih mencoba untuk membooking tiket. Sayangnya hasilnya tetap saja zonk.

Dua hari kemudian saya dapet cerita ada temannya teman saya yang berhasil dapet tiket kereta pukul 07.00 pagi. Usut punya usut dia ternyata setia mencoba membooking dari pukul 00.00 sampa 07.00. Ealaah...jadi sepertinya penjualan tiket online memberlakukan sistem buka tutup. Tiket nggak dijual sepanjang waktu tapi diselang-seling seperti sandwich.

Kunci biar dapet tiket ya..harus rajin mantengin internet. Kalo beruntung kita bisa dapet momen ketika penjualan tiket lagi dibuka. Mungkin... ini mungkin lho ya, penjualan tiket emang dibatesin tiap sesinya.

Padahal ya, di balik pencarian tiket ini saya sendiri juga belom tau gimana jatah libur besok Lebaran. Namanya kerja di media, waktu-waktu liburnya emang sering ajaib dibanding yang lain. Tapi taun lalu saya 'kan udah kerja pas lebaran, masa taun ini juga disuruh kerja lagi?

Dan akhirnya harapan saya (dan ribuan perantau lain) tinggal menggantungkan pada dibukanya tiket kereta tambahan. Fiuuh...wish us luck!

Sabtu, 24 Januari 2015

Sepasang Manusia Gerobak


Kata mentor saya, untuk belajar membuat tulisan yang baik seorang penulis harus melakukan riset dan menyelami materi yang akan ditulis. Suatu hari, saya diminta mencari manusia gerobak. Manusia gerobak adalah sebutan bagi mereka yang sehari-hari tinggal di dalam gerobak dan bekerja sebagai pemulung. Mentor saya yang bertubuh subur itu ingin agar anak didiknya mendalami kehidupan kaum marjinal perkotaan.

“Ikuti seharian penuh,” ujarnya menginstruksikan.

“Dan cari yang sudah berkeluarga,” imbuhnya.

Waduh, di mana coba saya nyari mereka? Masalahnya lagi, apa mereka mau kalau saya ikuti sepanjang hari?

“Kamu harus makan bareng mereka,” tambahnya lagi.

“Kalau mereka nggak mau diikuti gimana mas?” tanyaku.

“Kamu buat dong biar mereka mau, terserah gimana caranya,” katanya mengetok palu.

Besoknya, saya sudah beredar di tengah kota mencari para manusia gerobak. Setelah muter ke sana kemari di siang yang terik, akhirnya saya menemukan sasaran yang dicari. Pasangan pemulung yang saya taksir berusia sekitar 45-50 tahunan. Dan inilah yang bisa saya ceritakan.

***

Matahari tepat berada di atas kepala ketika saya menyambangi kawasan Menteng yang elit. Meski hawa Jakarta panas luar biasa namun rimbunnya pepohonan mampu meneduhkan suasana. Di ujung Jalan Cendana saya bertemu dengan sepasang suami istri pemulung. Sebut saja Usman dan Rofiati.

Usman sedang menyantap makan siang ketika saya mengajaknya berkenalan. Sejenak ia menghentikan kegiatannya dan kami saling memperkenalkan diri. Sadar bahwa ia belum menuntaskan makannya saya pun mempersilakan Usman menikmati kembali santap siangnya.

Menu Usman siang ini sederhana saja. Ia menikmati nasi putih yang disiram kuah santan. Makannya lahap meski hanya ditemani lauk tempe. Usman membeli makan siang pada penjual nasi langganannya yang saat itu mangkal di Jalan Cendana.

Tatkala Usman makan, Rofiati mencuci baju di seberang jalan. Istrinya mencuci tepat di depan proyek pembangunan sebuah rumah. Rofiati memanfaatkan air yang mengalir dari selang proyek untuk mencuci baju-baju mereka. Selesai mencuci Rofiati lapar juga. Ia memesan nasi kepada sang penjual namun nasi bungkus ternyata telah habis. Wanita itu menggumam kecewa. Sebagai ganti, ia membeli empat tempe goreng seharga dua ribu rupiah sebagai pengganjal perut.

Ujung Jalan Cendana tengah hari ini semarak. Selain kehadiran keluarga Usman dan pedagang nasi, datang pula satpam kompleks dan tukang rongsokan. Kelompok kecil ini terlibat perbincangan akrab sesekali diselipi guyonan. Setiap topik pembicaraan selalu bermuara pada tema yang sama, politik. Gaung pemilihan presiden sudah menyebar dari perdebatan serius di televisi hingga obrolan kelas pekerja di bawah pohon mangga.

Eh elu presiden milih siapa?” tanya penjual nasi kepada teman-temannya.

Si satpam hanya diam. Ia khusyuk mengunyah gorengan dan tak memedulikan pertanyaan kawannya. Tukang rongsok menyahut, ”Gak kenal semua, lagian gak dapet duit juga, hahaha...”

Belakangan terjadi debat ala akar rumput antara tukang nasi dan tukang rongsok. Keduanya mempersoalkan siapa di antara Prabowo dan Jokowi yang lebih berhak memimpin negeri ini. Tukang nasi bersikukuh membela Prabowo. Tukang rongsok merasa tak perlu ambil pusing siapa yang harus ia pilih nanti.

Usman dan Rofiati tak bisa berlama-lama mengobrol. Mereka harus kembali memulung. Waktu rehat yang nikmat harus diakhiri. Usman mengajak Rofiati beranjak pergi. Setelah menyerahkan dua lembar lima ribuan lusuh ke tukang nasi, mereka berjalan menjauh dari kerumunan kecil itu.

Usman, dengan tenaganya yang utuh, menarik gerobak. Tubuhnya dibalut kemeja hijau lengan panjang dan celana pendek warna coklat. Kulit Usman yang legam terlihat semakin suram karena bajunya lusuh dan warnanya mulai memudar. Giginya menguning karena tak pernah tersentuh pasta gigi. Bau keringat Usman yang bercampur dengan panas matahari membuatnya aroma tubuhnya seperti besi berkarat.

Rofiati mengikuti dari belakang sambil memanggul karung. Kulit Rofiati hitam seperti suaminya. Ia melilit pinggangnya dengan sarung pantai putih sebatas betis. Kaos lengan pendek warna merah ditabrakkan dengan kerudung oranye menyala yang membelit kepala. Kerudung itu hanya diikat sekenanya di bawah dagu dan menampakkan lehernya yang penuh daki.

Sambil berjalan, Rofiati mulai bercerita. Jika malam tiba, ia dan suaminya menuju Gondangdia. Di bawah lampu jalan mereka melewatkan ribuan malam. Gerobak sampah Usman adalah separuh hidupnya. Kotak yang terbuat dari kayu dan seng itu adalah harta berharganya. Selain sebagai tempat menyimpan hasil memungut, gerobak itu juga menjadi tempat tidur di kala malam.

Tak ada kamar apalagi rumah yang mampu mereka sewa. Dengan penghasilan mereka tak menentu, berat mengeluarkan uang 300 atau 400 ribu untuk menyewa kos. Tidur beratapkan langit tanpa bantal apalagi selimut sudah mereka lakoni lebih dari satu dekade. Ukuran gerobak yang tak seberapa besar hanya mampu memuat Rofiati. Tak jarang Rofiati harus tidur di gerobak berbagi tempat dengan sampah yang dipungut.

Usman memilih tidur di samping gerobak beralaskan karton. Keadaan menjadi runyam manakala turun hujan. “Gerobak kita ada tutup plastiknya jadi kalau hujan ibu bisa terlindung. Kalau bapak mengungsi ke pinggiran pos satpam. Biasanya masih ada bagian di luar bangunannya yang tidak kena hujan,”  beber Rofiati.

Sepasang suami istri ini berasal dari Jember, Jawa Timur. Setiap hari Usman dan Rofiati  menempuh belasan kilometer mengais sampah dengan berjalan kaki. Alas kaki mereka hanya sandal jepit tipis yang ringkih. Tali pengait sandal bisa putus hanya dengan sekali sentak.

Sepanjang siang yang terik ini mata mereka teliti memeriksa setiap jengkal jalan. Berharap menemukan sampah yang laku dijual. Tak lupa mereka mengais setiap tong atau bak sampah yang dilewati. Rofiati bilang, plastik bekas air mineral dijual seharga Rp 4.000,00-Rp 5.000,00/kg. Kertas HVS dan kertas kardus dihargai Rp 1.000,00-Rp 1.500,00/kg sementara untuk besi-besi tua Rp 2.000,00/kg.

Rofiati bergerak lincah memungut setiap sampah yang dibuang sembarangan. Kawasan komunitas berpagar seperti Menteng adalah salah satu daerah penyumbang sampah terbanyak. Tiap hari tumpukan sampah rumah tangga dihasilkan oleh kaum berduit. Kondisi ini menjadi surga buat Usman dan Rofiati.

Sepanjang perjalanan, Usman kerap berhenti untuk menyeka hidungnya dengan daster lusuh yang tergantung di gerobak. Kata Rofiati, suaminya sedang flu. Langkah Rofiati mendadak terhenti. Dipungutnya benda kecil berkilauan di pinggir trotoar. Dengan raut wajah bersinar ia menunjukkan benda yang ditemukannya barusan. Selingkar uang logam seratus rupiah. “Lumayan mbak dikumpulkan bisa buat uang jajan anak di kampung,” kata wanita itu.

Pukul 14.00 WIB perjalanan sampai di Jalan Lembang. Pasangan ini memutuskan untuk berhenti sejenak. Mereka perlu menata dan membersihkan hasil pungutan mereka sebelum dijual ke pengepul. Sampah hasil memulung dimuntahkan dari dalam gerobak. Gelas, botol plastik, kardus, hingga tudung saji bekas terhampar di trotoar.

Bau sampah menyeruak namun Usman dan istrinya tak tampak terganggu dengan hal itu. Sampah-sampah yang terkumpul dipisahkan menurut jenisnya. Cukup lama pasangan itu memilah dan memilih sampah. Tangan mereka yang keriput terlihat kotor.

Mendadak Rofiati ingat dia masih menyimpan gorengan di dalam gerobak. Ia mencuci tangannya dengan air yang ia bawa dalam botol plastik ukuran 1,5 liter. Air yang dipakai mencuci tangan nampak keruh. Entah karena penampakan botolnya yang sudah buluk atau memang dasar airnya keruh. Yang jelas Rofiati tak nampak jijik sedikitpun.

Selesai mencuci tangan, wanita berperawakan kecil ini lalu menyantap gorengan. Usai menyantap gorengan ia menyegarkan tenggorokannya dengan es Kuku Bima yang tadi dibeli di tukang nasi. Rofiati minum separuh lalu menyodorkan sisanya kepada Usman. Satu plastik es untuk berdua adalah salah satu cara untuk menghemat biaya.

“Woy, ada acara Prabowo di depan. Coba ke sana, banyak sampah,” tiba-tiba seorang penjual minuman bersepeda menghampiri Usman.

“Nantilah, ini masih belum selesai bersihin plastik,” jawab Usman.

“Jangan nyesel ya, pokoknya saya udah ngasih tau,” lanjut lelaki bersepeda. Usman hanya mengangguk tanda mengerti.

Dua puluh menit berlalu. Usman dan Rofiati selesai mengerjakan tugas mereka. Gelas-gelas air mineral disusun seperti menara-menara kecil. Usman menyeret kembali gerobaknya menuju tempat acara Prabowo berlangsung. Rofiati seperti biasa berjalan lambat di belakangnya. Kebetulan tempat acara yang dimaksud termasuk rute Usman menuju rumah pengepul di Manggarai.

“Walah udah selesai acaranya. Kita telat bu,” keluh Usman pada Rofiati. Sampah-sampah memang masih banyak berserakan. Tetapi sampah yang diburu Usman sudah tidak ada. Pelataran rumah yang dipakai untuk acara Prabowo tinggal menyisakan sampah makanan dan plastik kresek. Mereka berdua kalah cepat oleh pemulung-pemulung yang lain.

Barang-barang seperti ini buat kita mungkin hanya sampah. Tetapi buat para pemulung ini adalah harta karun. Foto: wikimedia
Suami istri ini kembali berjalan menuju Manggarai. Tempat pengepul yang  dituju terletak di sebelah timur Pasar Manggarai. Usman tak mengenal siapa nama si pengepul. Namun, ia dan pengepul sudah hapal karena kerja sama telah terjalin sejak lama. Kadang kala jika Usman dan istrinya pulang ke Jember, mereka menitipkan gerobaknya pada pengepul yang biasa disebut bos.

Sepanjang perjalanan, Rofiati tangkas memungut botol dan gelas bekas yang dibuang sembarangan. Sembari menyusuri trotoar saya ikut mengamati kalau-kalau ada sampah yang terlewat oleh mata Rofiati. Mata saya lalu tertumbuk pada sebuah botol air mineral yang tergeletak di pinggir trotoar.

“Ada itu di pojok bu, tapi...,” belum selesai saya bicara Rofiati sudah menyahut.

“Oiya ada. Wah ada air kencingnya mbak. Harus dibuang dulu.”

Wanita berlogat Madura itu memungut botol yang saya tunjuk. Ia membuka tutup lalu membuang isinya dan melemparkan botol yang sudah kosong itu ke dalam karung.

Akhirnya tibalah Usman dan Rofiati di rumah bos. Rumah si bos jauh dari kata rapi. Di luar rumah nampak timbangan dan tumpukan botol plastik yang menggunung tak beraturan. Seorang lelaki kurus berkaos singlet duduk di balik meja kecil sambil menghadap kalkulator.

Usman mengeluarkan perolehannya dari dalam gerobak untuk ditimbang. Tanpa banyak bicara si kurus menimbang sampah-sampah Usman. Diambilnya nota dan tangannya bergerak cepat menuliskan sederetan angka. Sore ini Usman berhasil mengantongi Rp 124.400,00. Jumlah yang lumayan untuk membeli makan dan disisihkan untuk tabungan.

Setiap bulan Usman mengirim uang kepada anak-anaknya di Jember. Ia mentransfer uang ke rekening anaknya lewat bank. Mulanya ritual ke bank dan mengirim uang adalah kegiatan yang rumit bagi Usman dan Rofiati. Keduanya tak pernah makan sekolahan sehingga urusan baca tulis menjadi hal yang mustahil. Beruntung mereka selalu dapat minta bantuan kepada petugas bank untuk melancarkan urusannya.

Meski tak bisa baca tulis, Usman mengantongi sebuah handphone. Anak pertamanya yang memberikan handphone itu. Jangan tanya bagaimana ia mengoperasikannya. Pemahamannya tentang handphone bersandar pada hapalan jumlah pencetan keypad.

Pencet tombol tengah dan tanda bintang artinya membuka kunci. Jika hendak menelepon anaknya ia cukup memencet tanda panah ke bawah dua kali. Begitu pula dengan kontak-kontak yang lain. Tiga kali pencet untuk menghubungi menantunya dan lima kali pencet untuk meminta hutang pada penjual nasi.

Seperti pada umumnya handphone, sewaktu-waktu baterenya bisa habis dan minta di-charge. Untuk itu Usman sudah punya konter langganan di Manggarai. Dua ribu rupiah untuk pengisian baterai satu strip dan lima ribu jika ingin mengisinya sampai penuh. Di konter yang sama Usman juga biasa membeli pulsa. Ia membeli pulsa sepuluh ribu rupiah yang awet hingga dua puluh hari.
***

Rutinitas Usman dan Rofiati dimulai selepas subuh. Mereka berangkat dari ‘rumahnya’ di Gondangdia menuju Menteng. Untuk menyegarkan tubuh, Usman mandi di Kali Gresik. Rofiati tak mau mau mandi di pinggir kali. Ia lebih memilih mandi di masjid atau kamar mandi umum Pasar Manggarai.

Rofiati membayar dua ribu rupiah untuk sekali mandi. Karena harus membayar, ia hanya mandi sehari sekali. Pakaian kotor dicucinya di masjid atau pom bensin karena pihak pasar tidak mengijinkan kamar mandinya dipakai mencuci. Baju-baju yang telah dicuci dijemur di tepi gerobak.

Bukan tanpa alasan Usman dan Rofiati merantau ke Jakarta. Keluarga mereka menanggung beban hutang di kampung sebesar Rp 12 juta. “Jumlahnya sekarang agak berkurang. Dulu sempat sampai Rp 30 juta,” kisah Usman.

Kewajiban melunasi hutang masih ditambah menafkahi tiga orang anak, seorang menantu, dan seorang cucu. Anak tertuanya sudah berkeluarga namun ia tak pernah punya pekerjaan tetap. Menurut cerita Usman, anak tertuanya yang bernama Usman Ashari memiliki kepandaian bermain gitar dan mengaji. Anaknya kadang diminta tampil jika ada panggung hiburan di kampung atau acara hajatan. Meski demikian pendapatan sang anak belum bisa dikatakan layak untuk menghidupi keluarga sehari-hari.

Cikal bakal hutang diawali ketika pada tahun 1990 keluarga Usman mengalami rugi besar. Usman yang berdagang sayur dan cabai harus mengalami kebangkrutan lantaran puluhan kuintal cabainya tak laku di pasaran. Cabai yang ia beli dari pengepul masih menumpuk sementara kondisinya kian membusuk. Alhasil uangnya tak berputar dan habis untuk biaya hidup dan sekolah anaknya.

Usman memberanikan diri berhutang yang belakangan justru makin mencekik perekonomian keluarganya. Hutang semakin membengkak dan Usman harus merelakan motornya untuk dijual. Tuntutan untuk melunasi hutang ditambah rasa malu membawa Usman dan Rofiati sampai ke Jakarta.

Pada 1991 mereka memutuskan untuk menjadi pemulung di ibukota. Pasangan ini mulai mencari sampah puluhan kilometer setiap hari dengan kendaraan utama tungkai kaki mereka sendiri. Rofiati tak pernah bisa menyembunyikan air mata setiap kali Usman bercerita tentang hutangnya. Rofiati bosan hidup sengsara. “Saya pengen dagang lagi di kampung. Tapi mau bagaimana lagi uang selalu habis buat hidup sehari-hari dan bayar hutang,” kata Rofiati lemah.

Konsekuensinya, Usman dan Rofiati harus rela hidup terpisah dengan anak-anaknya. Mustahil membawa anaknya turut serta sementara mereka masih perlu melanjutkan sekolah. Anak kedua Usman kini duduk di bangku kelas dua SMP sementara yang paling kecil masih kelas dua SD. Beberapa kali dalam seminggu pasangan ini menelepon anak-anaknya. Tiap kali bertelepon, si bungsu selalu menanyakan kapan mamak dan bapaknya pulang.

***

Sore berganti malam. Muatan sampah sudah ditukar dengan rupiah. Kini saatnya Usman dan Rofiati pulang ke ‘rumah’. Mereka berjalan menyusuri Jalan Surabaya menuju Gondangdia sambil tetap mencari sampah. Malam ini Usman menyeret gerobak tanpa mengenakan alas kaki. “Beberapa hari ini telapak kaki rasanya perih kalau memakai sandal,” ujarnya.

Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika keduanya tiba di tempat biasa mereka tidur. Usman memarkir gerobaknya di pinggir jalan. Ia sengaja tak membawanya ke atas trotoar karena dilarang oleh satpam.

Usman dan istrinya menggelar karton untuk duduk sejenak di bawah pohon. Masih terlalu cepat untuk tidur. Orang-orang masih ramai berlalu lalang dan yang demikian tidak membuat mereka nyaman beristirahat. Jeda waktu ini digunakan untuk ngobrol-ngobrol dan bersenda gurau sekadar melepaskan penat seletah bekerja seharian.

Lampu jalanan memantulkan bayangan kami bertiga. Beberapa saat terjadi hening yang kering. Tangan Usman merogoh bungkus rokok dari saku kemejanya yang lusuh. Disulutnya sebatang dan dihisapnya dalam-dalam. Ia perlu suasana santai sebelum tidur. Dan kenikmatan itu bisa dihadirkan lewat nyala sebatang rokok.

Asap keluar dari mulut Usman. Mata tuanya mengikuti gerakan asap seolah ia ingin menitipkan beban hidup agar ikut menguap bersamanya. Sembari merokok, ia mulai bercerita. Beragam kisah meluncur dari mulutnya. Semua kisah bernada sama yaitu kerinduan akan kampung halaman.

Di sini, saya melihat keadaan yang ambigu. Di satu sisi mereka terjerat hutang. Tetapi di sisi lain Usman tak mengerem kebiasannya merokok agar bisa menyisihkan uang lebih. Mungkin baginya duduk ditemani sebatang rokok adalah satu-satunya hiburan yang bisa ia jangkau.

Di samping Usman, Rofiati mulai terkantuk-kantuk. Matanya yang sayu menandakan ingin segera dipejamkan. Ia meluruskan kaki kecilnya dan menyandarkan punggung pada pokok bougenvil. Satu hari akan mereka sudahi. Rokok Usman mulai memendek. Rofiati berkali-kali menguap. Saya pun berpamitan. Sudah saatnya membiarkan pasangan ini beristirahat dipeluk angin malam.