Tampilkan postingan dengan label Cerita Sama Tembok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sama Tembok. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Desember 2015

Burung Surga yang Belum Diterima

Jelang akhir 2015, Kementerian Pemuda dan Olahraga merilis maskot yang akan digunakan dalam perhelatan ASIAN Games 2018. Dalam gelaran akbar tersebut pemerintah mengambil tokoh burung cendrawasih yang mengenakan pakaian pencak silat sebagai representasi dari Indonesia.

Bird of Paradise. Photo taken from Pinterest.

Alih-alih mendapat pujian, maskot bernama Drawa itu justru mendulang kritikan dari berbagai lapisan masyarakat.

"Desain maskot Asian Games yang jadul itu mungkin cermin betapa kakunya aturan birokrasi." -Wicaksono-
(@ndorokakung)

Menciptakan maskot memang tidak mudah, ada filosofi-filosofi tertentu yang terkandung dalam suatu karakter sehingga ia dipilih menjadi maskot. Akan tetapi pertimbangan filosofis bukan berarti mengesampingkan estetika. Dari waktu ke waktu desain maskot bikinan Indonesia selalu terkesan kurang 'mbois' dan kurang 'cute'.

Cuitan itu hanyalah satu dari membludaknya komentar soal Drawa. Munculnya kritikan atas burung khas Papua itu sangat beralasan mengingat tampilan Drawa yang terkesan jadul dan seadanya. Warna maskot ASIAN Games 2018 bisa dibilang kusam dan muncul dengan pose serta mimik wajah yang kaku. Tiap bagian tubuh Drawa hanya diblok satu warna yang monoton. Saya pun ketika pertama kali melihat Drawa, bingung menafsirkan sosok apakah ia. Antara ayam atau burung antah berantah.

Drawa seperti dibuat oleh seorang desainer di era 1950-an kemudian dikirimkan ke 2015 menggunakan mesin waktu. Tatkala membaca berbagai hujatan yang beredar di linimasa, mungkin sang pencipta maskot tengah teriris-iris hatinya. Namun apa mau dikata memang si Drawa ini tidak kekinian sama sekali. Desain maskot Olympiade 1980 di Rusia pun jauh lebih futuristik dibandingkan Drawa padahal keduanya berasal dari era yang berbeda. Di ranah instagram, komentar-komentar yang dialamatkan pada maskot yang baru lahir ini bahkan jauh lebih sadis. Ada yang mengomentari mirip maskot Chiki dan ada yang bilang si Drawa seperti banner penjual ayam goreng. Netizen lain ada yang cukup mengeluarkan satu kata namun langsung menghujam ulu hati: pathetic. Apes benar nasib Drawa, padahal ia baru diluncurkan pada 27 Desember 2015 oleh Wapres Jusuf Kalla.

Drawa dianggap gagal menunjukkan keindahan burung cendrawasih yang kerap dijuluki bird of paradise. Banyak pihak kemudian membanding-bandingkan dengan maskot ASIAN Games pada tahun-tahun sebelumnya.

Masyarakat bertanya-tanya mengapa pemerintah selalu terpaku pada selera yang itu-itu melulu. Padahal, Indonesia dipenuhi talenta-talenta muda nan penuh ide. Saya memang bukan desainer grafis. Saya hanyalah orang awam yang penasaran apa susahnya bagi pemerintah/panitia ASIAN Games 2018 menunjuk seorang desainer berbakat? Toh Indonesia tidak kekurangan orang-orang kreatif. Ambil contoh, Bayu Santoso yang desainnya berhasil dipilih menjadi cover album Maroon 5 untuk album "V".

Saya yakin kreativitas orang-orang Indonesia tidak kalah dari negeri sebelah yang jago bikin maskot lucu-lucu. Orang-orang kreatif cuma perlu diberi kesempatan untuk unjuk gigi menampilkan karya terbaiknya.

Kasus Drawa mengingatkan kita pada kasus pembuatan logo kota Yogyakarta pada Oktober 2014. Kala itu kehadiran logo baru dianggap terlalu absurd dan menjadi bahan candaan netizen. Huruf-huruf yang harusnya terbaca "JOGJA" malah lebih banyak diplesetkan menjadi "TOGUA". Dari segi estetika, logo baru "TOGUA" pun tidak menarik sama sekali. Gelombang protes menyerang logo baru tersebut. Alhasil pemda cepat-cepat merevisi logo Kota Gudeg ini.

Dalam kasus Drawa, untungnya Menpora Imam Nahrawi membuka celah untuk merevisi bentuk si Drawa. Setidaknya masyarakat Indonesia dapat bernafas lega dapat terhindar dari potensi dicibir bangsa-bangsa lain terkait maskot tersebut. Kita tentu saja tidak ingin mendengar orang asing melempar tanya, "Hey man, what the hell is that?" "Cendrawasih? Are you kidding me?"

Pedih lah ya.

Senin, 23 November 2015

Jajan Pasar dan Jamu Gendong Sosialita

"Enak ya kamu Chris, sering gaul sama artis dan orang-orang kaya," kira-kira begitulah komentar teman saya suatu hari. Kalimat itu meluncur tatkala ia mengetahui saya masih ribet meliput acara sebuah komunitas orang-orang berduit padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saya cuma mesam-mesem membaca Whatsapp itu. Iya sih, ada benarnya tapi juga tidak sepenuhnya benar. Enaknya adalah minimal wawasan kuliner saya nambah dan tidak monoton. Selain menu Warteg Ibu Sunda depan kosan dan pecel lele sebelah Ind*maret, lidah saya jadi termanjakan dengan makanan-makanan enak yang bahkan namanya saja saya kadang belibet mengucapkan.
Bicara soal sosialita dan makanan, ternyata tidak semua makanan yang disantap orang-orang berkantong tebal itu benar-benar makanan elit.

Mereka juga doyan makan makanan "kelas dua" alias makanan yang biasanya dianggap makanan ndeso. Nagasari, apem, clorot (ini apa sih bahasa indonesianya saya belum nemu), lupis, atau gethuk. Tapi namanya juga menyasar segmen berduit, harga dan pengemasan juga berbeda dibandingkan dengan yang biasa saya dan teman-teman semua makan. Suatu hari saya mencari tahu harga untuk satu porsi lupis yang dijual di sebuah toko makanan kelas atas di jantung ibukota. Seporsi makanan tradisional berbahan dasar ketan itu dihargai Rp 9 ribu rupiah. Pun untuk jajanan pasar lain macam pastel dan gethuk, rata-rata harga yang ditawarkan antara Rp 7 ribu - Rp 10 ribu per biji/per porsi.

Ingatan saya tiba-tiba melayang pada satu sudut di Pasar Lempuyangan. Di sana, simbok-simbok dan budhe-budhe penjual lupis dan thiwul dengan senang hati melepas dagangannya dengan harga tak lebih dari Rp 5 ribu per porsi. Saya juga jadi membayangkan sepenggal jalan di selatan Dusun Kembangarum dimana terdapat warung jajan pasar super ramai. Per biji pastel, lumpia, dan kawan-kawannya cukup ditebus dengan harga Rp 1.500 - Rp 2.000 saja. Gerobak jajan pasar yang mangkal tiap pagi di dekat kosan saya juga menjual jajan pasar yang harganya 11-12 dengan Pasar Lempuyangan. Namun berkat kelihaian manusia menguasai ilmu marketing, makanan ndeso itu langsung naik kelas karena dijual di mal dan disemati label toko makanan. Harga bakal melonjak jadi ratusan ribu jika pembeli memesan dalam bentuk tampahan yang berisi aneka macam jajan pasar.

Di satu sisi fakta ini jadi berita baik karena makanan tradisional Indonesia ramai diminati berbagai kalangan, bahkan kalangan atas. Tapi di sisi lain saya jadi mikir betapa mahalnya harga kemewahan yang harus orang kaya bayar untuk menikmati hal-hal yang menurut kita murah dan sederhana. "Jajan pasar yang dijual di toko saya sebagian besar diambil dari industri rumahan," kata sang pemilik toko. Wah, ternyata sumbernya juga sama dengan makanan yang dijual di pasar. Kirain bikinan ahli masak terkenal. Hehe... Tapi apa yang dilakukan ini tentu saja baik untuk memberdayakan home industri. Sayangnya saya lupa bertanya berapa harga yang dia bayarkan ke home industri atas produk-produk jajan pasar ini (tapi kayaknya tidak bakal dijawab juga sih...hehe).



Kali lain saya meliput acara sore-sore, nama acaranya "Jagongan". Undangan yang saya terima mendeskripsikan acara itu sebagai acara ngemil-ngemil santai di museum. Sesampainya di lokasi, para pengunjung disuguhi hamparan tikar dari anyaman bambu. Di tempat itu disediakan berbagai menu yang merakyat semisal nasi pecel dan tempe goreng. Minumannya pun tak kalah tradisional, jamu gendong. Ada pula teh serai dan teh kayu manis. Maka berseliweranlah para pelayan dengan bergelas-gelas kunyit asam, beras kencur, dan kawan-kawan sejenisnya. Para pengunjung, yang di dalamnya terdapat kumpulan istri para direktur BUMN, juga nampak lahap menikmati sepincuk nasi pecel. Buat saya yang wong cilik, ini sama sekali tidak istimewa. Lha wong di tanah Mataram saya sudah sehari-harinya begini. Tetapi hidangan yang menurut saya amat sederhana dan lugu ini rela ditebus para sosialita dengan tiket seharga Rp 150 ribu. Iya, mereka bayar ratusan ribu hanya untuk makan pecel dan minum jamu di atas tikar bambu. Walah...

Saya, yang ilmunya super terbatas ini, jadi tidak paham dengan definisi 'mewah' dan 'elit' menurut kaum berduit. Apakah saking kaya dan modern seseorang, ia semakin tidak sempat menikmati hal-hal murah dan lumrah di dekatnya? Ataukah semakin bergelimang harta maka mahal harga yang harus ia bayar untuk membeli kesederhanaan? Entahlah.


Photo credit: Kaskus.co.id

Jumat, 04 September 2015

Dunia Tanpa Televisi

Sudah hampir empat tahun saya tidak berinteraksi dengan televisi. Terhitung sejak menjadi anak kost pada 2011, hari-hari saya jauh dari kotak ajaib itu. Hubungan mesra antara saya dan televisi hanya terjadi ketika saya pulang ke rumah atau mengunjungi rumah kerabat. Jadi ketika saya mudik, kendali remote control ada di tangan saya. Mungkin semacam balas dendam akibat sok-sokan menghindari televisi selama di kost.

"Mbak! Mbok diganti acaranya jangan yang itu," pinta si adek ketika suatu hari saya menonton televisi di rumah.

"Biarin to, kasihan orang primitif nggak pernah nonton TV," sahut ayah.

Saya cuma bisa ngakak tanpa beranjak dari kursi empuk ruang tengah.

Pada dasarnya saya suka menonton TV, tapi menurut saya tontonan yang ditayangkan makin hari makin tidak menggugah selera. Ada tiga jenis acara yang menjadi favorit saya, berita, acara musik, dan talkshow. Apa lacur, setiap kali menyalakan TV saya hanya menjumpai acara-acara yang tidak sesuai dengan minat saya.

Band-band beraliran musik Melayu mendominasi acara musik pagi. Saya tidak bilang musik Melayu yang mendayu itu tidak bagus. Buktinya saya doyan mendengarkan Fatwa Pujangganya Victor Hutabarat. Yang membuat musik itu tidak bagus adalah cara musisinya tampil dan membawakan lagunya. Sebagai anak yang besar di era 90-an, saya dan teman-teman seangkatan terbiasa mendengarkan lagu dengan lirik yang puitis dan dalam. Nama-nama seperti Dewa 19, Padi, Sheila on 7, Jikustik, atau Elemen menjadi jaminan mutu sebuah lagu. Bahkan hingga hari ini lagu-lagu jadul mereka tetap enak untuk dinikmati.

Bandingkan dengan band-band yang muncul saat ini. Kemunculan band aliran melayu satu selalu diikuti kemunculan band lain yang sejenis, sampai kami tak sempat mengingat namanya. Namun bagi kami generasi 90an, penampilan band saat ini tidak memuaskan selera musik kami. Lirik lagunya jauh dari kata puitis. Coba bandingan "hamparan langit maha sempurna bertahta bintang-bintang angkasa, namun satu bintang yang kupuja teruntai turun menyapaku" dengan "yank coba kau jujur padaku, yank foto siapa di dompetmu, yank kok kamu diam membisu, sayank jawab atau aku pergi sayank".

Hehe...



Lebih baik main ke luar daripada menonton tontonan palsu. Sumber gambar: speckyboy

Generasi yang beranjak remaja pada 2006 ke atas juga disuguhi girlband dan boyband Indonesia rasa Korea. Dengan penampilan glamour dan seragam, mereka menghentak layar kaca. Menyanyi mereka rombongan seperti mau naik haji. Setiap lagu yang dibawakan selalu disertai dengan koreografi yang membosankan. Tentu saja kualitas boyband dan girlband Indonesia masih jauh dari kualitas boyband dan girlband asal negeri ginseng.

Di Korsel, rekruitmen anggota boyband/girlband dilakukan sejak mereka masih remaja. Setelah berhasil lolos, para calon bintang itu ditraining bertahun-tahun mengenai musik, koreografi, dan akting. Setelah dinilai matang, barulah agensi berani mengorbitkan mereka. Hasilnya, mereka tak hanya menjadi penyanyi namun juga entertainer profesional yang mampu menyuguhkan hiburan memesona kepada para penggemarnya. Bandingkan dengan proses pembentukan boyband dan girlband ala-ala di Indonesia.

Susah rasanya kalau hari ini kita diminta menyebutkan grup vokal yang bisa seklasik Trio Libels, AB Three, atau RSD. Era memang terus bergulir. Setiap seniman punya penggemarnya masing-masing.

Untungnya ada Youtube.

Lewat Youtube saya masih bisa menyaksikan penampilan musisi-musisi lawas. Saya juga dipuaskan dengan penampilan musisi masa kini dengan musikalitas tinggi namun jarang muncul di TV. Lewat Youtube, saya bisa menikmati penampilan apik Tulus, Judika, atau Teza Sumendra. Saya juga bisa sepuasnya menonton Sounds from The Corner secara maraton.

Dunia tanpa televisi rupanya juga berhasil menjauhkan saya dari 'ghibah artis'. Sebagaimana kita tahu, tayangan infotainment kian menjamur di televisi dari pagi hingga sore. Sayangnya infotainment di Indonesia mayoritas sudah jauh bergeser dari kata 'informatif'. Infotainment malah konsisten membuka kebobrokan artis dan selebritas hingga kerak terbawah. Media lebih doyan memberitakan pasangan yang kawin cerai ketimbang prestasi seniman Indonesia di mancanegara.

Wajah-wajah yang hilir mudik di layar kaca seolah-olah berlomba mencari ketenaran lewat sensasi, bukan prestasi. Pernikahan pasangan artis bahkan 'harus banget' disiarkan seharian penuh di televisi, seolah-olah acara itu semacam royal wedding yang wajib diketahui rakyat se-Indonesia. Tidak cukup hanya pernikahan, prosesi kelahiran sang jabang bayi juga 'harus banget' disiarkan live. Tempo hari seorang penyanyi dangdut terbentur skandal foto topless di akun Instagramnya. Dengan mimik muka panik, ia mengaku  kalau Instagramnya dibajak. Terlepas dari jujur tidaknya pengakuan sang artis, haruskah melakukan hal serendah itu untuk mencapai pucuk tertinggi?

Menonton televisi tidak lagi menjadi kegiatan yang mengasyikkan manakala setiap menekan tombol power di remote yang muncul adalah sinetron percintaan ABG labil. Sinetron yang tayang di jam-jam prime time malah menyuguhkan drama romantika manusia setengah serigala yang jauh dari kata mendidik. Ada pula sinetron yang melabeli diri sebagai 'sinetron religi'. Namun nampaknya sang sutradara malas menggali ilmu agama lebih dalam sebelum memproduksi sinetron.

Maka terjadilah alur klise sinetron religi dimana selalu ada tokoh yang sangat lemah namun religius dan berhadapan dengan tokoh super jahat yang tidak mengenal Tuhan. Semua karakter tokoh digambarkan hitam atau putih tanpa adanya konflik berarti yang menguras emosi. Di akhir cerita, sang tokoh baik selalu menang sedangkan si jahat bertobat atau justru mati.

Ada lagi, kalau rating sinetron ternyata bagus maka stasiun tivi akan terus menayangkan sinetron tersebut setiap hari. Tak peduli episode sudah mencapai ratusan (bahkan ribuan) atau alur cerita melenceng jauh dari judul.

Kami memang butuh tontonan yang mendidik. Tapi jika yang dihadapkan pada kami adalah sinetron religi yang kebanyakan hanya mengandalkan kecantikan/ketampanan pemain namun miskin eksplorasi, pesan apa yang ingin disampaikan?

Keluarga cemara, Si Doel Anak Sekolahan, atau Satu Kakak Tujuh Ponakan bukanlah sinetron religi. Namun setiap episodenya selalu membawa pesan moral. Baik dari dialog yang keluar dari mulut para pemain maupun alur cerita yang dalam tapi tetap sederhana. Kita  patut berterima kasih kepada Dedi Mizwar yang setiap Ramadhan tak pernah absen menyuguhkan sinetron Para Pencari Tuhan. PPT seakan menjadi oase di tengah serbuan sinetron-sinetron yang hanya menonjolkan materialisme dan tampang keren para pemain.

Apa kabar ya pola pikir adik-adik kita yang masih SD jika setiap hari disuguhkan sinetron yang mengumbar aurat, materialisme, dan kisah cinta manusia setengah serigala?

Menjamurnya tayangan televisi yang demikian parahnya membuat sejumlah stasiun televisi kena semprit KPI. Acara dagelan dan musik yang terlalu banyak mengumbar hinaan fisik dan komedi slapstick sempat dihentikan penayangannya sementara. Sinetron yang memamerkan kemesraan berlebih juga kena sentil KPI.

Tapi akan sampai kapankah tontonan tidak bermutu itu terus wara-wiri di layar kaca? Sebagai orang awam saya masih belum paham, apakah media yang membentuk selera masyarakat? Atau sebenarnya masyarakatlah yang secara tidak sadar menggiring media untuk terus menerus menyiarkan tontonan tak bermutu?

Kondisi pertelevisian yang compang-camping dalam menyuguhkan hiburan membuat saya masih betah menjalani hari tanpa televisi. Tidak semua stasiun televisi buruk sih. Masih ada NET dan Kompas TV yang layak tonton tanpa menyebabkan sakit mata dan sakit jiwa. :D

"Kamu ini lho suka menyiksa diri sendiri, tinggal beli tivi murah ada kok yang harganya di bawah sejuta," saran seorang teman.

Kebetulan saya sedang tidak menyiksa diri sendiri. Lagipula saya tidak pernah kesepian meski hidup tanpa televisi. Saya dikelilingi teman-teman yang menyenangkan dan ritme kerja yang dinamis. Bisa dikatakan setiap akhir pekan saya dan teman-teman selalu punya agenda menarik yang menjauhkan kami dari televisi. Justru dengan tidak adanya televisi, saya dan teman-teman satu kos lebih akrab karena sering mengobrol. Dan yang paling penting, saya tidak perlu mengeluarkan tambahan biaya listrik kos karena membawa televisi.

Hehe..

Saya tidak tahu kapan hati saya akan tergerak membeli televisi. Bisa dalam waktu dekat atau masih lama. Atau mungkin besok saja kalau saya sudah menikah dan tinggal bersama suami. Saya juga tidak tahu. Kalaupun saat ini saya disuruh membeli televisi, saya masih pikir-pikir dulu. Tapi kalau ada yang berbaik hati memberi, tentu saja dengan senang hati saya terima. :P

Senin, 15 Juni 2015

Separuh Jalan

Ancaman kenyamanan adalah ketumpulan. itu yang saya rasakan akhir-akhir ini. Di kala frekuensi liputan tidak sepadat dulu dan banyak waktu longgar, saya merasa ilmu saya justru tidak berkembang. Kehidupan yang terlalu santai ternyata membosankan. Gawatnya ketumpulan ini mengancam sederet target yang sudah dengan semangat saya kumpulkan di awal tahun.

Waktu tak pernah mau menunggu. Tahu-tahu 2015 sudah separuh jalan dan kurang dari seminggu memasuki bulan puasa. Dalam sebuah sambungan telepon dengan seorang sahabat di pengujung 2014, kami berdua sama-sama menceritakan target masing-masing di tahun yang akan datang. Kami saling menyemangati. Namun juga saling mencaci. Kita pasti sepakat manusia tidak hanya tumbuh dari pujian.
Picture taken from here

Enam bulan berlalu dan sudah saatnya menengok lagi apa-apa yang belum dikerjakan di paruh kedua tahun kambing ini. Dia sudah meraih beberapa target, saya pun demikian.

Ada target-target mahapenting semisal karier, tabungan, atau (ehm...) cinta. Ada juga bahasan penting-nggak-penting soal tingkat kerajinan berolah raga, makanan enak apa yang harus dicoba, sampai berapa kali terlambat bangun pagi. Menaruh harapan adalah hal yang sangat manusiawi.

Apa gunanya target dan harapan? Tentu saja agar jadi orang yang selalu maju. Saya ingin jadi orang yang tahu apa yang saya mau. Sepuluh tahun dari sekarang saya harus tahu akan menjadi orang yang seperti apa dan menjalani kehidupan yang bagaimana. Terlalu muluk? Bisa ya bisa tidak. Kalau kata ibu, saya ini orangnya terlalu simetris. Hihihi...

Yang namanya cita-cita, setiap orang pasti punya.

Dengan menaruh harapan kita jadi tahu di jalur mana kita harus berjalan.

Saya pribadi bukan orang yang suka memberi motivasi buat orang lain. Saya orang yang selalu menolak jika disodori buku-buku motivasi dengan cerita-cerita pendek penuh hikmah. Saya juga tidak suka menonton video-video para motivator. Saya lebih suka membaca biografi orang terkenal. Sebab apa yang dituangkan dalam sebuah biografi adalah hal konkret yang benar-benar terjadi. Agak sinis memang tapi menurut saya jejalan kata-kata mutiara dari motivator tidak akan berpengaruh apa-apa. Karena, yang paling penting adalah niat dari dalam sendiri.

Masih ada enam bulan sebelum 2015 mencapai pucuknya.



Keep on writing~

Minggu, 17 Mei 2015

Siapa yang Paling Cantik?

Indonesia bukan negara Islam. Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Maka menolak ajang kontes kecantikan seperti Miss Universe, Miss World, atau Putri Indonesia sepertinya adalah hal yang sia-sia. Karena, di samping alasan adat ketimuran isu-isu yang diangkat dalam penolakan kontes kecantikan biasanya adalah isu agama.

Wanita dilarang memamerkan aurat, wanita dilarang berlenggak-lenggok, dan wanita dilarang menjadi barang pajangan adalah sudut pandang Islam. Sebagai negara yang majemuk, wajar jika isu-isu semacam itu tidak mempan menghentikan diselenggarakannya ajang kecantikan. Tidak semua orang Indonesia beragama Islam. Dan lagi, tidak semua Muslim memiliki pandangan yang sama. Maka tak heran di kala sebagian Muslim menolak kontes kecantikan, sebagian Muslim lain yang berpandangan sekuler tengah sibuk menjadi panitia penyelenggara dan peserta.

Sayangnya, kita umat Islam nampaknya justru malah menduplikasi dan memodifikasi ajang pemilihan ratu kecantikan agar terlihat lebih Islami. Munculnya kontes kecantikan Muslimah adalah hal yang patut dipertanyakan. "Miss Muslimah itu cuma Miss Universe dikasih jilbab!" ujar seorang teman saya dengan nyinyir. Pernyataan itu tidak keluar dari mulut seorang aktivis muslim apalagi yang berjilbab lebar. Teman saya juga tidak rajin-rajin amat tadarusan. Dia hanya muslimah biasa yang sama awamnya seperti saya. Tetapi ia termasuk yang geli melihat para muslimah diperlombakan di atas panggung.

Ya, buat saya (dan mungkin beberapa orang lain di luar sana) inti dari ajang miss-miss-an atau putri-putrian adalah mencari wanita-wanita cantik. Dan kehadiran kontes kecantikan Muslimah pun bagaikan adik kandung Miss Universe dan Miss World. Hanya yang satu 'pakai bungkus' dan yang satu 'tidak pakai bungkus'. Kalaupun ada konsep 3B (brain, beauty, behaviour) maka itu adalah kelihaian penyelenggara agar kontes semacam ini lebih bisa diterima. Konsep 3B kemudian diadopsi oleh ajang kecantikan Muslimah lewat 3S (shalihah, smart, stylish). Akh, pantaskah ke-shalihah-an dikonteskan? Jikalau ya, apa standarnya? Dari mana kita tahu seseorang lebih shalihah daripada yang lain sedangkan apa yang tersimpan di dalam hati hanya Allah yang tahu?

Jika standar shalihah adalah berjilbab, maka betapa dangkalnya standar itu karena kita hanya menilai orang dari tampilan luarnya saja. Jika standarnya bisa mengaji dan hafal al-qur'an, anak-anak SD dan SMP juga bisa mengaji dan menghafal. Tetap saja penilaian menitikberatkan pada kecantikan dan keindahan fisik. Kita tidak melihat wanita berperawakan misal (maaf) pendek, gendut, atau berwajah sangat biasa bisa berjalan di atas panggung penjurian. Semua yang tampil pada kontes kecantikan adalah mereka yang berwajah cantik/manis, tinggi semampai, dan berkulit bersih. Padahal di luar sana banyak kaum hawa memiliki pemikiran brilian namun kondisi fisiknya tidak semulus mereka yang berlenggak-lenggok di atas panggung. Banyak wanita-wanita berpenampilan ala kadarnya bisa berprestasi dan memberikan kontribusi signifikan bagi lingkungan namun tidak terekspos gemerlapnya panggung kontes. Kondisi ini seolah menegaskan hanya wanita cantik saja yang diizinkan menjadi duta ini dan itu.

Foto diambil dari sini


Pagelaran kontes kecantikan muslimah pada akhirnya bermuara pada kapitalisme. Sederetan sponsor sudah menyokong perhelatan kontes kecantikan muslimah sejak ajang ini dipromosikan. Mulai dari kosmetik hingga busana muslim (yang mahal dan tidak syar'i). Mereka yang berhasil memenangkan lomba ditunjuk menjadi brand ambassador produk sponsor. Kontes kecantikan pada hakikatnya adalah meraup keuntungan bisnis. Kampanye agar wanita berjilbab? Please, masih banyak cara lain untuk mengajak wanita sadar jilbab selain lewat ajang kecantikan. Kontes kecantikan justru bisa memicu lahirnya kasta-kasta dalam dunia per-muslimah-an. Kasta antara yang cantik, pintar, dan (dianggap) shalihah dengan kasta muslimah yang serba biasa dan sedang-sedang saja. Hati manusia siapa yang tahu, ajang kecantikan musimah bisa jadi malah menjerumuskan wanita pada sifat sombong dan berlebih-lebihan.

Pemilihan ratu kecantikan tidak berkorelasi dengan pendapatan negara. Apakah dengan Indonesia menjuarai kontes kecantikan muslimah lalu serta merta sektor pariwisata ikut terdongkrak? Atau jika boleh lebih ekstrim lagi, sejak Indonesia ambil bagian dalam Miss World dan Miss Universe seberapa melejitkah pamor pariwisata Tanah Air di mata dunia?

Pangkal dari keberhasilan sektor pariwisata tidak berada pada seberapa berkilaunya wanita Indonesia di mata dunia. Kemauan pemerintah menyediakan infrastruktur pariwisata yang  memadai jauh lebih penting dalam memajukan sektor pariwisata. Keberadaan sumber daya manusia yang mumpuni di bidang seni dan budaya Indonesia adalah aset paling berharga yang harus diperhatikan pemerintah.

Kembali ke kontes kecantikan muslimah, budaya apa yang tengah dikampanyekan ajang ini sementara Rasulullah melarang kaumnya untuk berlebih-lebihan? Saya sangat tidak berkompetensi dalam bidang agama tetapi izinkan saya membagi dua hadis populer yang pasti sudah sering kita dengar. Mari kita mengingat sabda nabi yang satu ini, "Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli orang-orang dengannya. Dan wanita-wanita yang memakai baju tapi telanjang, berjalan dengan menggoyang-goyangkan pundaknya dan berlenggak-lenggok. Kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak akan mendapat wanginya, padahal sungguh wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian." (HR Muslim). Atau sabda yang ini, "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka." (HR Abu Daud).

Maaf bukan bermaksud menggurui, tetapi bukankah kontes kecantikan jelas bukan budaya yang dianjurkan oleh Islam? Sekali lagi, saya hanyalah orang awam. Tetapi melihat sederetan muslimah dipertontonan dan dilombakan sambil mereka memamerkan senyum yang seragam, rasanya tak tahan untuk tidak berkomentar. Ke mana jati diri kaum muslim? Sebegitu mudahnyakah terpengaruh budaya-budaya kapitalis yang esensi keislamannya masih dipertanyakan? Wanita shalihah yang sebenarnya tidak akan membiarkan dirinya dieksploitasi dan dinilai para juri. Karena, juri yang sebenarnya hanyalah Dia Sang Maha Pencipta.


-correct me if i'm wrong-

Selasa, 05 Mei 2015

Wejangan Pini Sepuh

Rezeki iku ora iso ditiru
Senajan padha lakumu
Senajan padha dodolanmu
Senajan padha kerjamu
Hasil sing ditampa bakal beda-beda
Isa beda nang akehe bandha
Isa uga ana nang rasa lan ayeme ati
Yaitu sing jenenge bahagia

Kabeh iku saka tresnane Gusti Kang Maha Kuwasa
Sapa temen bakal tinemu
Sapa wani rekasa bakal gayuh mulya
Dudu akehe, nanging berkahe kang dadekake cukup lan nyukupi

Wis ginaris nang takdire manungsa
Yen apa sing urip kuwi wis disangoni saka sing KuwasaDalan urip lan pangane wis cemepak
Cedhak kaya angin sing disedhot saben dinane
Nanging kadhang manungsa sulap mata lan peteng atine
Sing adoh saka awake katon padhang cemlorot ngawe-awe
Nanging sing cedhak nang ngarepe lan dadi tanggung jawabe disia-sia kaya ora duwe guna

Rejeki iku wis cemepak saka Gusti
Ora bakal kurang anane kanggo nyukupi butuhe manungsa saka lair tekane pati
Nanging yen kanggo nuruti karep manungsa sing ora ana watese, rasane kabeh cupet
Nang pikiran ruwet lan atine marai bundhet

Welinge wong tuwa, apa sing ana dilakoni lan apa sing durung ana aja diarep-arep
Semelehke atimu, yen wis dadi duwekmu bakal tinemu
Yen ora jatahmu apa meneh nek ngrebut saka wong liya nganggo cara sing ala
Ya dienteni wae, iku bakal gawe uripmu lara, rekasa, lan angkara murka sajroning kulawarga
Kabeh iku bakal sirna balik dadi sakmestine
Yen umpamane ayem iku mung bisa dituku karo akehe bandha,
Dahna rekasane dadi wong sing ora duwe
Untunge ayem isa diduweni sapa wae sing gelem ngleremke atine bab kadonyan
Seneng tetulung marang liyan, lan masrahke uripe marang Gusti Allah

Kerja iku pancen rekasa nanging luwih rekasa meneh yen ora kerja
Lakonana lan syukuri apa sing wis ana

Foto oleh @sarrymartin


*Sampai Wejangan Pini Sepuh ini ditulis di umbarasa, saya belum menemukan siapa sumber pertama yang menulisnya. Wejangan Pini Sepuh hanya saya dapat dari hasil share di grup Whatsapp tanpa mencantumkan sumber. Menurut saya wejangan sebaik ini harus dibagikan agar dapat menjadi inspirasi bagi siapapun yang membacanya. Mohon maaf bagi yang tidak mengerti Bahasa Jawa karena saya belum sempat mencantumkan subtitle Bahasa Indonesia.





Selasa, 28 April 2015

Tidak Kasihan

Wanita itu berusia sekitar 30 tahunan. Kulitnya hitam dan rambutnya diikat ekor kuda. Pertama kali saya bersirobok dengannya pada suatu malam minggu di sebuah lesehan dekat Universitas Nasional. Ia menggendong bayi sambil membawa kecrek. Langkah kakinya diikuti bocah lelaki berusia sekitar tujuh tahunan. Wanita tersebut berhenti di setiap warung tenda barang  dua-tiga menit. Dari mulutnya melantun lagu campursari 'Stasiun Balapan' dengan nada yang sumbang. Si bocah mengulurkan topi lusuhnya ke setiap pengunjung yang ada di warung tenda. Hingga pada akhirnya rombongan ibu dan anak itu sampai di warung tempat saya dan teman-teman makan.

Tatkala bocah itu menyodorkan topinya, kami berbarengan menggelengkan kepala. Jujur saya sendiri tidak merasa kasihan melihat pemandangan itu. Entahlah mungkin karena saking banyaknya pengamen di Jakarta (dan kota besar lainnya) sehingga saya (dan kita?) menjadi kebal dengan mereka.

Gitar, senjata andalan para pengamen jalanan. Gambar diambil dari sini.

Saya termasuk pelit memberi receh kepada pengamen. Kalau suaranya tidak bagus dan nyanyinya tidak full satu lagu ya tidak saya kasih. Kita pasti juga sepakat bahwa pengamen-yang-tidak-terlihat-niat-menyanyi adalah modus mengemis. Saya tidak rela meski hanya memberi recehan 500-an kepada pengamen abal-abal (baca:suara jelek diiringi tepukan tangan atau kecrek seadanya). Semakin pengamen memperoleh uang dari 'kerjanya' yang nyaris tanpa modal, semakin menjamur pula jumlah pengamen abal-abal. Menurut saya mengamen bukan pekerjaan. Jika ada yang beralasan 'nggak apa-apa yang penting halal' maka bolehkah saya menyimpulkan itu alasan seorang pemalas?

Banyak sekali kegiatan di luar sana yang lebih terhormat ketimbang mengamen. Buruh cuci, tukang sapu, penjaga toko, adalah sederetan pekerjaan yang bisa dicoba ketimbang menjadi pengamen. Banyak orang memilih jadi pengamen karena dengan usaha yang tak seberapa penghasilan yang diperoleh cukup lumayan. Saya pernah memberi pengamen 200 perak karena tidak punya uang receh selain itu. Dan hasilnya? Si pengamen marah-marah sambil melempar uang itu ke muka saya. Lho, pengamen kok pasang tarif? Gila. Alih-alih terhibur, kehadiran pengamen abal-abal kebanyakan justru mengganggu. Kita tidak memungkiri sejumlah artis lahir dari dunia pengamen. Tetapi itu tentu saja pengamen yang memang bersungguh-sungguh memberi hiburan dan tidak asal ngamen.

Saya jauh lebih rela memberikan uang lebih kepada penjual tisu, air mineral, atau pedagang-pedagang asongan lainnya. IMHO, mereka lebih berhak menerima kelebihan rezeki kita ketimbang para pengamen abal-abal. Apalagi pengamen yang membawa-bawa anak kecil. Bukankan itu suatu tindakan yang tidak bisa dianggap sebelah mata? Pertama, anak-anak tidak seharusnya dipekerjakan karena idealnya dunia anak adalah waktunya bermain dan belajar. Kedua, menyuruh anak-anak minta receh bisa mengakibatkan mereka bermental pengemis. Masa depan seperti apa yang bisa anak-anak raih jika masa kecilnya sudah diajari meminta-minta? Andai orang tua si anak benar-benar menyayangi buah hatinya, maka pastinya ia akan mencari pekerjaan dalam arti sesungguhnya. Dan, tidak membiarkan anaknya berkeliaran meminta receh.

Mulai sekarang berhentilah memberi uang kepada pengamen abal-abal. Jangan pernah menaruh kasihan pada orang-orang yang tidak mau bekerja keras. Mereka tetap ada karena merasa tindakan yang dilakukannya dapat menjadi sumber penghidupan. Maka salah satu cara menghilangkan keberadaan pengamen abal-abal adalah dengan membuatnya tidak berpenghasilan.