Senin, 25 Januari 2016

Nafas Tari Jawa Timur di Ibukota

Tiga puluh lima penari berusia belia berbagi panggung di Gedung Kesenian Gajayana, Malang. Dengan gerakan yang bergerak dinamis dari gemulai hingga menghentak mereka menyihir ratusan penonton yang memadati gedung di Jalan Nusakambangan itu. Di akhir pertunjukan, riuh rendah tepukan penonton membahana memenuhi ruangan.

Pada Ahad (23/1) Sanggar Tari Anjungan Jawa Timur TMII sengaja menyambangi Malang untuk menampilkan sendratari Calon Arang. Sebelumnya Sanggar Anjungan Jatim telah mementaskan sendratari di Taman Budaya Surabaya pada Sabtu (23/1).

Mereka hadir berkat kerja sama yang terjalin antara Dinas Pariwisata Kota Malang dan Sanggar Tari Senaputra. Sendratari ini mengangkat judul "Giri-Gora Dahuru Daha" yang artinya Gonjang-Ganjing di Daha. Para penari yang tampil hari ini merupakan anggota sanggar yang berasal dari Jakarta.

Anjungan Jawa Timur di TMII memang memiliki sanggar kesenian yang pengelolaannya di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Sanggar ini menjadi wadah untuk memperkenalkan kesenian Jawa Timur di tengah serbuan budaya perkotaan yang serba modern dan instan.

Sutradara sendratari, Heri Suprayitno mengatakan dipilihnya cerita rakyat Calon Arang karena sesungguhnya cerita ini berakar dari Kerajaan Kahuripan di Kediri. "Dalam benak saya Pulau Jawa dan Bali pada zaman dahulu bukan merupakan pulau yang terpisah, maka tak heran Calon Arang ini dapat berkembang di Bali," ujarnya saat ditemui sebelum pementasan.

Pelatih dan para penari berdoa sebelum naik panggung. Sayangnya karena kamera HP saya tidak memadai maka hasil jepretan mereka ketika tampil sangat buruk dan tidak layak jika dimuat.
Heri yang sehari-hari menjadi pelatih tari di sanggar Anjungan Jatim menuturkan animo warga Jakarta untuk mempelajari kesenian Jawa Timur cukup menggembirakan. Para penampil yang diboyong ke Malang ini hanya sebagian kecil dari keseluruhan anggota sanggar. Anak-anak didik yang belajar di sanggar pun tak pernah lepas dari prestasi.

Bergairahnya sanggar tersebut tak lepas dari keseriusan Pemprov Jatim dalam pengelolaannya. Sehari-hari sanggar ini diampu empat guru tari yang mengajarkan berbagai jenis tarian Jawa Timur. "Sanggar ini adalah satu-satunya tempat diklat di TMII yang dikelola dengan baik oleh pemprov dibandingkan anjungan-anjungan yang lain," kata alumnus Jurusan Pariwisata UNS ini.

Ketua anjungan tari Jatim di TMII, Samad Widodo mengungkapkan harapannya terhadap keberadaan sanggar. "Sanggar ini memperkenalkan tarian Jawa Timur agar bisa tumbuh dan berkembang di Jakarta," ucapnya.

Seorang peserta sanggar bernama Elita Damayanti Putri mengungkapkan ketertarikannya pada seni tari sudah tumbuh sejak kecil. Elita yang pada pementasan ini berperan sebagai anak Calon Arang bernama Ratna Manggalih mengaku sering mengikuti lomba-lomba kesenian khas Jawa Timur. Gadis asli Jakarta ini pernah menjadi juara 1 lomba tari pada Festival Reog dan juara 1 Festival Selaras Pinang Masa.

Perkenalannya dengan tarian Jawa Timur dimulai sepuluh tahun silam. Saat ia duduk di bangku kelas 2 SD, orang tuanya memasukkannya ke sanggar tari Anjungan Jatim. Kebetulan lokasi sanggar tak jauh dari tempat kerja sang ayah. "Menari dapat melatih kepekaan pikiran dan perasaan," kata gadis yang kini duduk di kelas 3 SMA ini.

Minggu, 24 Januari 2016

Omah Munir Melawan Lupa

Rumah di Jalan Bukit Berbunga 2 Kota Batu, Malang itu nampak sederhana. Bagian depan rumah dibatasi pagar besi berwarna putih. Sepetak taman mungil dengan pohon palem menyambut siapapun yang datang ke rumah tersebut. Di bagian depan rumah tertera tulisan "Omah Munir".

Omah dalam bahasa Jawa berarti Rumah. Omah Munir merupakan rumah milik Suciwati Munir, istri almarhum aktivis HAM Munir. Suciwati sengaja menyulap hunian tersebut menjadi museum untuk mengenang sepak terjang sang suami. Meski Munir telah tiada namun dengan adanya Omah Munir kisah perjuangannya tak akan lekang oleh waktu.

Tampak depan Omah Munir

Munir lahir di Malang 8 Desember 1965. Omah Munir diresmikan tiga tahun silam bertepatan dengan tanggal lahirnya yakni 8 Desember 2013. Di rumah yang luasnya setengah lapangan futsal itu dipajang berbagai memorabilia milik Munir. Omah Munir dibagi menjadi tujuh bagian. Bagian-bagian rumah meliputi kantor pusat dan informasi, ruang utama display perjuangan munir, ruang kisah Munir dan Kontras, ruang koleksi dan peristiwa, dinding kisah Munir dan keluarga, ruang baca dan //meeting room//, serta kafe dan toko souvenir.

Ketika memasuki pintu rumah, pengunjung dapat melihat meja kerja Munir tatkala ia menjadi pejuang kemanusiaan di LBH Surabaya. Kadang meja itu menjadi tempat tidur Munir saat malam hari. Berkeliling Omah Munir kita dapat menebak bahwa semasa hidup ia adalah aktivis yang cerdas namun sederhana. Sederet penghargaan dari dalam dan luar negeri dialamatkan kepada Munir atas jasa-jasanya dalam penegakan HAM di tanah air.

Salah satu sudut di Omah Munir
Kesederhanaan alumnus Universitas Brawijaya tersebut tercermin dari benda-benda yang dipamerkan di Omah Munir. Tidak ada kemewahan dari barang-barang pribadi Munir. Sehari-hari ia gemar mengenakan jaket kulit yang sudah berlubang di beberapa titik dan kaos oblong. Kemeja, sepatu usang, dan jam tangan yang mayoritas berwarna hitam juga jauh dari kesan mewah. Penampilan Munir yang sangat membumi ini seolah menyatakan keberpihakannya kepada //wong cilik//. Sejak bergabung dengan LBH Surabaya, Munir memang menaruh minat pada advokasi buruh.

Naas, perjuangan anak dari Said Thalib dan Jamilah ini harus berakhir karena ia meninggal setelah meminum kopi yang dibubuhi arsenik. Ia diduga diracun saat singgah di Coffee Bean Bandara Changi Singapura pada 7 September 2004. Munir meninggal sekitar pukul 10.00 saat pesawat berada di langit rumania.

Sepatu usang ini sehari-hari menemani alm. Munir beraktivitas
Pada hari-hari biasa Omah Munir memang tak ramai pengunjung. Namun secara berkala di tempat ini sering diadakan diskusi dan pemutaran film mengenai HAM. Peminatnya pun membludak dan didominasi mahasiswa. Seorang pengunjung bernama Putra Dwi Aditya mengatakan keberadaan Omah Munir sangat bermanfaat bagi para generasi muda untuk lebih mengenal Munir. Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional UNS ini mengungkapkan selama ini ia memang tertarik pada sosok Munir. "Saya diberitahu teman mengenai Omah Munir dan ketika berkunjung ke Malang saya sempatkan ke sini," katanya saat ditemui pada Kamis (21/1).

Namun menurut Putra keberadaan Omah Munir kurang mencolok dan masih kurang terpublikasi. Putra menjelaskan di antaranya teman-teman kampusnya masih banyak yang belum tahu Omah Munir. Padahal museum ini sangat baik sebagai sarana edukasi sekaligus sebagai tanda perlawanan menolak lupa pada kasus-kasus pelanggaran HAM yang hingga kini belum tuntas.

Selasa, 29 Desember 2015

Burung Surga yang Belum Diterima

Jelang akhir 2015, Kementerian Pemuda dan Olahraga merilis maskot yang akan digunakan dalam perhelatan ASIAN Games 2018. Dalam gelaran akbar tersebut pemerintah mengambil tokoh burung cendrawasih yang mengenakan pakaian pencak silat sebagai representasi dari Indonesia.

Bird of Paradise. Photo taken from Pinterest.

Alih-alih mendapat pujian, maskot bernama Drawa itu justru mendulang kritikan dari berbagai lapisan masyarakat.

"Desain maskot Asian Games yang jadul itu mungkin cermin betapa kakunya aturan birokrasi." -Wicaksono-
(@ndorokakung)

Menciptakan maskot memang tidak mudah, ada filosofi-filosofi tertentu yang terkandung dalam suatu karakter sehingga ia dipilih menjadi maskot. Akan tetapi pertimbangan filosofis bukan berarti mengesampingkan estetika. Dari waktu ke waktu desain maskot bikinan Indonesia selalu terkesan kurang 'mbois' dan kurang 'cute'.

Cuitan itu hanyalah satu dari membludaknya komentar soal Drawa. Munculnya kritikan atas burung khas Papua itu sangat beralasan mengingat tampilan Drawa yang terkesan jadul dan seadanya. Warna maskot ASIAN Games 2018 bisa dibilang kusam dan muncul dengan pose serta mimik wajah yang kaku. Tiap bagian tubuh Drawa hanya diblok satu warna yang monoton. Saya pun ketika pertama kali melihat Drawa, bingung menafsirkan sosok apakah ia. Antara ayam atau burung antah berantah.

Drawa seperti dibuat oleh seorang desainer di era 1950-an kemudian dikirimkan ke 2015 menggunakan mesin waktu. Tatkala membaca berbagai hujatan yang beredar di linimasa, mungkin sang pencipta maskot tengah teriris-iris hatinya. Namun apa mau dikata memang si Drawa ini tidak kekinian sama sekali. Desain maskot Olympiade 1980 di Rusia pun jauh lebih futuristik dibandingkan Drawa padahal keduanya berasal dari era yang berbeda. Di ranah instagram, komentar-komentar yang dialamatkan pada maskot yang baru lahir ini bahkan jauh lebih sadis. Ada yang mengomentari mirip maskot Chiki dan ada yang bilang si Drawa seperti banner penjual ayam goreng. Netizen lain ada yang cukup mengeluarkan satu kata namun langsung menghujam ulu hati: pathetic. Apes benar nasib Drawa, padahal ia baru diluncurkan pada 27 Desember 2015 oleh Wapres Jusuf Kalla.

Drawa dianggap gagal menunjukkan keindahan burung cendrawasih yang kerap dijuluki bird of paradise. Banyak pihak kemudian membanding-bandingkan dengan maskot ASIAN Games pada tahun-tahun sebelumnya.

Masyarakat bertanya-tanya mengapa pemerintah selalu terpaku pada selera yang itu-itu melulu. Padahal, Indonesia dipenuhi talenta-talenta muda nan penuh ide. Saya memang bukan desainer grafis. Saya hanyalah orang awam yang penasaran apa susahnya bagi pemerintah/panitia ASIAN Games 2018 menunjuk seorang desainer berbakat? Toh Indonesia tidak kekurangan orang-orang kreatif. Ambil contoh, Bayu Santoso yang desainnya berhasil dipilih menjadi cover album Maroon 5 untuk album "V".

Saya yakin kreativitas orang-orang Indonesia tidak kalah dari negeri sebelah yang jago bikin maskot lucu-lucu. Orang-orang kreatif cuma perlu diberi kesempatan untuk unjuk gigi menampilkan karya terbaiknya.

Kasus Drawa mengingatkan kita pada kasus pembuatan logo kota Yogyakarta pada Oktober 2014. Kala itu kehadiran logo baru dianggap terlalu absurd dan menjadi bahan candaan netizen. Huruf-huruf yang harusnya terbaca "JOGJA" malah lebih banyak diplesetkan menjadi "TOGUA". Dari segi estetika, logo baru "TOGUA" pun tidak menarik sama sekali. Gelombang protes menyerang logo baru tersebut. Alhasil pemda cepat-cepat merevisi logo Kota Gudeg ini.

Dalam kasus Drawa, untungnya Menpora Imam Nahrawi membuka celah untuk merevisi bentuk si Drawa. Setidaknya masyarakat Indonesia dapat bernafas lega dapat terhindar dari potensi dicibir bangsa-bangsa lain terkait maskot tersebut. Kita tentu saja tidak ingin mendengar orang asing melempar tanya, "Hey man, what the hell is that?" "Cendrawasih? Are you kidding me?"

Pedih lah ya.

Senin, 23 November 2015

Jajan Pasar dan Jamu Gendong Sosialita

"Enak ya kamu Chris, sering gaul sama artis dan orang-orang kaya," kira-kira begitulah komentar teman saya suatu hari. Kalimat itu meluncur tatkala ia mengetahui saya masih ribet meliput acara sebuah komunitas orang-orang berduit padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saya cuma mesam-mesem membaca Whatsapp itu. Iya sih, ada benarnya tapi juga tidak sepenuhnya benar. Enaknya adalah minimal wawasan kuliner saya nambah dan tidak monoton. Selain menu Warteg Ibu Sunda depan kosan dan pecel lele sebelah Ind*maret, lidah saya jadi termanjakan dengan makanan-makanan enak yang bahkan namanya saja saya kadang belibet mengucapkan.
Bicara soal sosialita dan makanan, ternyata tidak semua makanan yang disantap orang-orang berkantong tebal itu benar-benar makanan elit.

Mereka juga doyan makan makanan "kelas dua" alias makanan yang biasanya dianggap makanan ndeso. Nagasari, apem, clorot (ini apa sih bahasa indonesianya saya belum nemu), lupis, atau gethuk. Tapi namanya juga menyasar segmen berduit, harga dan pengemasan juga berbeda dibandingkan dengan yang biasa saya dan teman-teman semua makan. Suatu hari saya mencari tahu harga untuk satu porsi lupis yang dijual di sebuah toko makanan kelas atas di jantung ibukota. Seporsi makanan tradisional berbahan dasar ketan itu dihargai Rp 9 ribu rupiah. Pun untuk jajanan pasar lain macam pastel dan gethuk, rata-rata harga yang ditawarkan antara Rp 7 ribu - Rp 10 ribu per biji/per porsi.

Ingatan saya tiba-tiba melayang pada satu sudut di Pasar Lempuyangan. Di sana, simbok-simbok dan budhe-budhe penjual lupis dan thiwul dengan senang hati melepas dagangannya dengan harga tak lebih dari Rp 5 ribu per porsi. Saya juga jadi membayangkan sepenggal jalan di selatan Dusun Kembangarum dimana terdapat warung jajan pasar super ramai. Per biji pastel, lumpia, dan kawan-kawannya cukup ditebus dengan harga Rp 1.500 - Rp 2.000 saja. Gerobak jajan pasar yang mangkal tiap pagi di dekat kosan saya juga menjual jajan pasar yang harganya 11-12 dengan Pasar Lempuyangan. Namun berkat kelihaian manusia menguasai ilmu marketing, makanan ndeso itu langsung naik kelas karena dijual di mal dan disemati label toko makanan. Harga bakal melonjak jadi ratusan ribu jika pembeli memesan dalam bentuk tampahan yang berisi aneka macam jajan pasar.

Di satu sisi fakta ini jadi berita baik karena makanan tradisional Indonesia ramai diminati berbagai kalangan, bahkan kalangan atas. Tapi di sisi lain saya jadi mikir betapa mahalnya harga kemewahan yang harus orang kaya bayar untuk menikmati hal-hal yang menurut kita murah dan sederhana. "Jajan pasar yang dijual di toko saya sebagian besar diambil dari industri rumahan," kata sang pemilik toko. Wah, ternyata sumbernya juga sama dengan makanan yang dijual di pasar. Kirain bikinan ahli masak terkenal. Hehe... Tapi apa yang dilakukan ini tentu saja baik untuk memberdayakan home industri. Sayangnya saya lupa bertanya berapa harga yang dia bayarkan ke home industri atas produk-produk jajan pasar ini (tapi kayaknya tidak bakal dijawab juga sih...hehe).



Kali lain saya meliput acara sore-sore, nama acaranya "Jagongan". Undangan yang saya terima mendeskripsikan acara itu sebagai acara ngemil-ngemil santai di museum. Sesampainya di lokasi, para pengunjung disuguhi hamparan tikar dari anyaman bambu. Di tempat itu disediakan berbagai menu yang merakyat semisal nasi pecel dan tempe goreng. Minumannya pun tak kalah tradisional, jamu gendong. Ada pula teh serai dan teh kayu manis. Maka berseliweranlah para pelayan dengan bergelas-gelas kunyit asam, beras kencur, dan kawan-kawan sejenisnya. Para pengunjung, yang di dalamnya terdapat kumpulan istri para direktur BUMN, juga nampak lahap menikmati sepincuk nasi pecel. Buat saya yang wong cilik, ini sama sekali tidak istimewa. Lha wong di tanah Mataram saya sudah sehari-harinya begini. Tetapi hidangan yang menurut saya amat sederhana dan lugu ini rela ditebus para sosialita dengan tiket seharga Rp 150 ribu. Iya, mereka bayar ratusan ribu hanya untuk makan pecel dan minum jamu di atas tikar bambu. Walah...

Saya, yang ilmunya super terbatas ini, jadi tidak paham dengan definisi 'mewah' dan 'elit' menurut kaum berduit. Apakah saking kaya dan modern seseorang, ia semakin tidak sempat menikmati hal-hal murah dan lumrah di dekatnya? Ataukah semakin bergelimang harta maka mahal harga yang harus ia bayar untuk membeli kesederhanaan? Entahlah.


Photo credit: Kaskus.co.id

Jumat, 04 September 2015

Dunia Tanpa Televisi

Sudah hampir empat tahun saya tidak berinteraksi dengan televisi. Terhitung sejak menjadi anak kost pada 2011, hari-hari saya jauh dari kotak ajaib itu. Hubungan mesra antara saya dan televisi hanya terjadi ketika saya pulang ke rumah atau mengunjungi rumah kerabat. Jadi ketika saya mudik, kendali remote control ada di tangan saya. Mungkin semacam balas dendam akibat sok-sokan menghindari televisi selama di kost.

"Mbak! Mbok diganti acaranya jangan yang itu," pinta si adek ketika suatu hari saya menonton televisi di rumah.

"Biarin to, kasihan orang primitif nggak pernah nonton TV," sahut ayah.

Saya cuma bisa ngakak tanpa beranjak dari kursi empuk ruang tengah.

Pada dasarnya saya suka menonton TV, tapi menurut saya tontonan yang ditayangkan makin hari makin tidak menggugah selera. Ada tiga jenis acara yang menjadi favorit saya, berita, acara musik, dan talkshow. Apa lacur, setiap kali menyalakan TV saya hanya menjumpai acara-acara yang tidak sesuai dengan minat saya.

Band-band beraliran musik Melayu mendominasi acara musik pagi. Saya tidak bilang musik Melayu yang mendayu itu tidak bagus. Buktinya saya doyan mendengarkan Fatwa Pujangganya Victor Hutabarat. Yang membuat musik itu tidak bagus adalah cara musisinya tampil dan membawakan lagunya. Sebagai anak yang besar di era 90-an, saya dan teman-teman seangkatan terbiasa mendengarkan lagu dengan lirik yang puitis dan dalam. Nama-nama seperti Dewa 19, Padi, Sheila on 7, Jikustik, atau Elemen menjadi jaminan mutu sebuah lagu. Bahkan hingga hari ini lagu-lagu jadul mereka tetap enak untuk dinikmati.

Bandingkan dengan band-band yang muncul saat ini. Kemunculan band aliran melayu satu selalu diikuti kemunculan band lain yang sejenis, sampai kami tak sempat mengingat namanya. Namun bagi kami generasi 90an, penampilan band saat ini tidak memuaskan selera musik kami. Lirik lagunya jauh dari kata puitis. Coba bandingan "hamparan langit maha sempurna bertahta bintang-bintang angkasa, namun satu bintang yang kupuja teruntai turun menyapaku" dengan "yank coba kau jujur padaku, yank foto siapa di dompetmu, yank kok kamu diam membisu, sayank jawab atau aku pergi sayank".

Hehe...



Lebih baik main ke luar daripada menonton tontonan palsu. Sumber gambar: speckyboy

Generasi yang beranjak remaja pada 2006 ke atas juga disuguhi girlband dan boyband Indonesia rasa Korea. Dengan penampilan glamour dan seragam, mereka menghentak layar kaca. Menyanyi mereka rombongan seperti mau naik haji. Setiap lagu yang dibawakan selalu disertai dengan koreografi yang membosankan. Tentu saja kualitas boyband dan girlband Indonesia masih jauh dari kualitas boyband dan girlband asal negeri ginseng.

Di Korsel, rekruitmen anggota boyband/girlband dilakukan sejak mereka masih remaja. Setelah berhasil lolos, para calon bintang itu ditraining bertahun-tahun mengenai musik, koreografi, dan akting. Setelah dinilai matang, barulah agensi berani mengorbitkan mereka. Hasilnya, mereka tak hanya menjadi penyanyi namun juga entertainer profesional yang mampu menyuguhkan hiburan memesona kepada para penggemarnya. Bandingkan dengan proses pembentukan boyband dan girlband ala-ala di Indonesia.

Susah rasanya kalau hari ini kita diminta menyebutkan grup vokal yang bisa seklasik Trio Libels, AB Three, atau RSD. Era memang terus bergulir. Setiap seniman punya penggemarnya masing-masing.

Untungnya ada Youtube.

Lewat Youtube saya masih bisa menyaksikan penampilan musisi-musisi lawas. Saya juga dipuaskan dengan penampilan musisi masa kini dengan musikalitas tinggi namun jarang muncul di TV. Lewat Youtube, saya bisa menikmati penampilan apik Tulus, Judika, atau Teza Sumendra. Saya juga bisa sepuasnya menonton Sounds from The Corner secara maraton.

Dunia tanpa televisi rupanya juga berhasil menjauhkan saya dari 'ghibah artis'. Sebagaimana kita tahu, tayangan infotainment kian menjamur di televisi dari pagi hingga sore. Sayangnya infotainment di Indonesia mayoritas sudah jauh bergeser dari kata 'informatif'. Infotainment malah konsisten membuka kebobrokan artis dan selebritas hingga kerak terbawah. Media lebih doyan memberitakan pasangan yang kawin cerai ketimbang prestasi seniman Indonesia di mancanegara.

Wajah-wajah yang hilir mudik di layar kaca seolah-olah berlomba mencari ketenaran lewat sensasi, bukan prestasi. Pernikahan pasangan artis bahkan 'harus banget' disiarkan seharian penuh di televisi, seolah-olah acara itu semacam royal wedding yang wajib diketahui rakyat se-Indonesia. Tidak cukup hanya pernikahan, prosesi kelahiran sang jabang bayi juga 'harus banget' disiarkan live. Tempo hari seorang penyanyi dangdut terbentur skandal foto topless di akun Instagramnya. Dengan mimik muka panik, ia mengaku  kalau Instagramnya dibajak. Terlepas dari jujur tidaknya pengakuan sang artis, haruskah melakukan hal serendah itu untuk mencapai pucuk tertinggi?

Menonton televisi tidak lagi menjadi kegiatan yang mengasyikkan manakala setiap menekan tombol power di remote yang muncul adalah sinetron percintaan ABG labil. Sinetron yang tayang di jam-jam prime time malah menyuguhkan drama romantika manusia setengah serigala yang jauh dari kata mendidik. Ada pula sinetron yang melabeli diri sebagai 'sinetron religi'. Namun nampaknya sang sutradara malas menggali ilmu agama lebih dalam sebelum memproduksi sinetron.

Maka terjadilah alur klise sinetron religi dimana selalu ada tokoh yang sangat lemah namun religius dan berhadapan dengan tokoh super jahat yang tidak mengenal Tuhan. Semua karakter tokoh digambarkan hitam atau putih tanpa adanya konflik berarti yang menguras emosi. Di akhir cerita, sang tokoh baik selalu menang sedangkan si jahat bertobat atau justru mati.

Ada lagi, kalau rating sinetron ternyata bagus maka stasiun tivi akan terus menayangkan sinetron tersebut setiap hari. Tak peduli episode sudah mencapai ratusan (bahkan ribuan) atau alur cerita melenceng jauh dari judul.

Kami memang butuh tontonan yang mendidik. Tapi jika yang dihadapkan pada kami adalah sinetron religi yang kebanyakan hanya mengandalkan kecantikan/ketampanan pemain namun miskin eksplorasi, pesan apa yang ingin disampaikan?

Keluarga cemara, Si Doel Anak Sekolahan, atau Satu Kakak Tujuh Ponakan bukanlah sinetron religi. Namun setiap episodenya selalu membawa pesan moral. Baik dari dialog yang keluar dari mulut para pemain maupun alur cerita yang dalam tapi tetap sederhana. Kita  patut berterima kasih kepada Dedi Mizwar yang setiap Ramadhan tak pernah absen menyuguhkan sinetron Para Pencari Tuhan. PPT seakan menjadi oase di tengah serbuan sinetron-sinetron yang hanya menonjolkan materialisme dan tampang keren para pemain.

Apa kabar ya pola pikir adik-adik kita yang masih SD jika setiap hari disuguhkan sinetron yang mengumbar aurat, materialisme, dan kisah cinta manusia setengah serigala?

Menjamurnya tayangan televisi yang demikian parahnya membuat sejumlah stasiun televisi kena semprit KPI. Acara dagelan dan musik yang terlalu banyak mengumbar hinaan fisik dan komedi slapstick sempat dihentikan penayangannya sementara. Sinetron yang memamerkan kemesraan berlebih juga kena sentil KPI.

Tapi akan sampai kapankah tontonan tidak bermutu itu terus wara-wiri di layar kaca? Sebagai orang awam saya masih belum paham, apakah media yang membentuk selera masyarakat? Atau sebenarnya masyarakatlah yang secara tidak sadar menggiring media untuk terus menerus menyiarkan tontonan tak bermutu?

Kondisi pertelevisian yang compang-camping dalam menyuguhkan hiburan membuat saya masih betah menjalani hari tanpa televisi. Tidak semua stasiun televisi buruk sih. Masih ada NET dan Kompas TV yang layak tonton tanpa menyebabkan sakit mata dan sakit jiwa. :D

"Kamu ini lho suka menyiksa diri sendiri, tinggal beli tivi murah ada kok yang harganya di bawah sejuta," saran seorang teman.

Kebetulan saya sedang tidak menyiksa diri sendiri. Lagipula saya tidak pernah kesepian meski hidup tanpa televisi. Saya dikelilingi teman-teman yang menyenangkan dan ritme kerja yang dinamis. Bisa dikatakan setiap akhir pekan saya dan teman-teman selalu punya agenda menarik yang menjauhkan kami dari televisi. Justru dengan tidak adanya televisi, saya dan teman-teman satu kos lebih akrab karena sering mengobrol. Dan yang paling penting, saya tidak perlu mengeluarkan tambahan biaya listrik kos karena membawa televisi.

Hehe..

Saya tidak tahu kapan hati saya akan tergerak membeli televisi. Bisa dalam waktu dekat atau masih lama. Atau mungkin besok saja kalau saya sudah menikah dan tinggal bersama suami. Saya juga tidak tahu. Kalaupun saat ini saya disuruh membeli televisi, saya masih pikir-pikir dulu. Tapi kalau ada yang berbaik hati memberi, tentu saja dengan senang hati saya terima. :P

Selasa, 04 Agustus 2015

Sketsa dari Pantura

Mobil berjalan lambat di atas aspal panas Pantura. Waktu menunjukkan pukul 12.35 yang artinya sudah lebih dari 12 jam kami menempuh perjalanan. Saya duduk di kursi belakang dan sibuk berselancar di dunia maya untuk membunuh waktu. Raul dan temannya duduk di bangku depan. Dua warga Spanyol itu berkali-kali melempar pertanyaan yang sama kepada sopir: Berapa jam lagi kita tiba di Jogja?

Pria di balik kemudi selalu menggelengkan kepala setiap kali dua warga asing itu resah. Sang sopir sendiri juga tak tahu kapan rombongan kami akan tiba di Kota Gudeg. Mobil kami berjalan amat pelan di antara mobil, motor, bus, dan bahkan truk. Lebaran tinggal dua hari lagi dan ratusan ribu pemudik merangsek ke jalan demi pulang ke kampung halaman. Inilah yang disebut sebuah harian di ibukota dengan headline: RI's Biggest Exodus Begins.

Mobil Nissan yang membawa enam penumpang dan satu sopir ini beranjak dari Jakarta pukul 12 malam. Dua belas jam kemudian, dengan tertatih-tatih, kami sampai di Brebes. Kaki saya mulai bengkak karena kurang bergerak.

Dua turis Spanyol, yang tak kebagian tiket pesawat ke Jogja, melempar pandangan heran ke arah jalan. Teman Raul mengeluarkan smartphonenya dan menjepret pemandangan para pemudik motor. Bagi dua warga asing itu, orang-orang Indonesia adalah orang pemberani. Orang Indonesia rela mengendarai motor sarat muatan dan mengajak anak istrinya menempuh perjalanan jauh. Mungkin bagi Raul dan kawannya, mudik adalah kegiatan yang absurd.
 

Hembusan dingin dari AC rupanya tak mampu meredakan kegalauan kami. Apalagi sejak berangkat kami belum sekali pun berhenti makan bahkan sekadar untuk menyantap sahur. Beruntung saya membawa bekal nasi sehingga meski sopir tidak berhenti di rest area saya tetap bisa sahur.

Sopir tak henti-hentinya menenggak Red Bull sambil bersungut-sungut. Saya hitung sejak berangkat hingga saat ini ia menghabiskan empat botol. Empat botol minuman berenergi tanpa tidur dan makan nasi selama 12 jam, buat saya ini seperti upaya menyakiti diri sendiri.

Pukul 12.44 sopir nampaknya benar-benar lelah. Akhirnya ia mengarahkan mobil ke warung sate. "Makan dulu mister," kata pak sopir sambil menguncupkan telapak tangan dan mengarahkan ke mulutnya sendiri. Aroma sate kambing langsung menyeruak ketika kami turun dari mobil.

Warung sate sederhana yang kami singgahi ramai didatangi para pemudik. Rata-rata para pemudik tidak berpuasa karena tidak kuat menahan hawa panas Pantura. Menembus kemacetan di kala puncak arus mudik memang sangat menguras tenaga. Saya, yang memutuskan untuk tetap berpuasa, memesan seporsi sate kambing plus nasi untuk berbuka.

"Berapa?" tanya saya ketika pelayan menyodorkan pesanan.
"Empat puluh empat ribu mbak," jawab si pelayan.
"Apa?" mata saya terbelalak mendengar harga yang fantastis itu.
"Seporsi sate empat puluh ribu, nasinya empat ribu," kata pelayan tak acuh.

Istirahat siang selesai, sopir kembali menggiring para penumpang masuk ke dalam mobil. Raul mengendikkan bahu kepada kawannya seolah keberatan jika harus menenggelamkan diri lagi ke dalam kemacetan. Sebaliknya, dua asisten rumah tangga yang duduk di sebelah saya tak tampak mengeluh. Bagi mbak-mbak itu, segala cara pantas dibayar asalkan bisa berlebaran di kampung halaman. Sedangkan bagi Yanto, penumpang yang sehari-hari bekerja menjaga toko di Roxy,  macet pun tak masalah asalkan H-1 ia bisa sampai di rumah.

"Supaya masih ada waktu mengecat rumah sebelum Lebaran, bapak dan simbok sudah tidak kuat lagi kalau kerja yang berat-berat," ujar Yanto.

Rute Brebes-Pemalang-Pekalongan benar-benar jadi rute yang menguji kesabaran. Pemberitaan bahwa ekonomi Indonesia melambat sehingga daya beli menurun tidak terbukti di ruas Pantura menjelang Lebaran. Bukan sekali dua kali saya melihat mobil yang masih mengkilap dengan plat nomor berwarna putih berseliweran. Jumlah mobil semakin membeludak sementara penambahan infrastruktur tak sebanding dengan laju pertumbuhan kendaraan.

Sekitar pukul sembilan malam akhirnya kami lepas dari Pekalongan dan masuk Weleri. Semua orang di dalam mobil menunjukkan raut wajah yang lelah. Namun wajah yang lelah itu kembali segar setelah kami berhenti makan malam di Temanggung. Pertama, makan memang mengembalikan energi. Dan kedua, Jogjakarta sudah semakin dekat. Saya melahap sate kambing dengan rakus karena buka puasa tadi hanya meminum air putih dan agar-agar. Sayangnya saya harus menelan kekecewaan karena separuh dari sate adalah lemak yang sudah tak nikmat jika disantap dingin. Ditambah lagi nasi yang saya terima sangat keras dan membuat saya melotot waktu menelannya.

Makan malam usai dan perjalanan kembali dilanjutkan. Akhirnya setelah menempuh perjalanan 24 jam, mobil kami tiba di Yogyakarta. Berhari-hari kemudian ketika saya sudah di Jakarta lagi, seorang teman bertanya, "Tahun depan masih mau mudik pakai travel?"

Senin, 29 Juni 2015

Rindu yang Mengganggu

Ramadhan sudah memasuki hari kedua belas. Pekan lalu di seberang telepon, ibu kembali bertanya kapan saya pulang. Saya pun (kembali) melontarkan jawaban yang sama: belum tahu karena masih menunggu jadwal libur kantor.

Sudah delapan bulan saya tidak pulang. Untuk jarak seukuran Jakarta - Yogyakarta dan dengan menyandang status belum berkeluarga, sesungguhnya 'pulang ke rumah' bukanlah sesuatu yang rumit. Kecuali urusan pekerjaan, tidak ada beban berarti yang menghalangi saya untuk pulang sewaktu-waktu.

Sayangnya sebagai anak baru saya belum mendapat jatah cuti. Jadwal liputan, meski tidak setiap hari, tapi mengharuskan para reporter untuk stand by sewaktu-waktu. Anak-anak media pasti tahu bagaimana rasanya ketika sedang asyik bersantai tahu-tahu redaktur yang tercinta memberi order liputan. Maka dengan jatah libur yang singkat dan terbatas, saya jadi malas untuk pulang ke rumah.

Jatah libur lebih sering saya gunakan untuk berkumpul dan jalan bersama teman-teman. Mumpung masih free tidak ada salahnya kami rajin mengeksplor tempat-tempat menarik di Jakarta dan sekitarnya.

Tapi sebahagia-bahagianya saya di Jakarta, rasa kangen untuk pulang akhirnya datang juga. Sudah sejak dua bulan lalu saya kepingin buru-buru menghirup lagi hawa Yogyakarta. Saya kangen rumah sederhana di kaki Gunung Merapi tempat keluarga kecil kami tinggal. Saya kangen suara kokok ayam di pagi hari yang diiringi hawa dingin menusuk kulit.

Saya rindu jalanan rindang di Kotabaru-Lempuyangan-Gayam, tempat di mana saya menghabiskan dua puluh tahun pertama dalam hidup. Saya ingin merasakan lagi jajanan Yogyakarta yang serba murah dan meriah.


Sudut di Yogyakarta yang instagramable dan paling banyak diabadikan

Yogyakarta memang telah berganti rupa. Ia tak lagi menjadi puteri Keraton yang ayu dan sederhana. Tubuhnya kini telah digantungi perhiasan-perhiasan gemerlap berupa deretan mall-mall mewah, hotel berbintang, dan tempat hiburan malam. Yogyakarta perlahan menjelma menjadi gadis metropolitan. Meski demikian masih banyak sudut-sudut bersahaja di Yogyakarta yang menawarkan nostalgia.

Tapak kaki kuda masih setia beradu dengan aspal Malioboro, segelas es teh masih bisa ditebus dengan harga Rp 3 ribu rupiah, dan kita dengan betahnya ngetem lama di angkringan walau hanya berbekal nasi kucing dan sate usus. Betapa ngangeninya kesederhanaan di Yogyakarta.


Siomay Kotabaru, salah satu kuliner enak dan ramah kantong di Kota Pelajar

Di Jakarta semua serba bayar dan serba mahal. Untuk membeli sebotol minuman dingin di convenience store saja kita ditarik jatah parkir Rp 2 ribu. Tetapi bagaimanapun, kota ini adalah tempat saya mencari sesuap nasi. Si bijak berkata jangan meludah di sumur yang airnya kita minum. Jakarta, dengan semua sisi gelap dan terangnya sudah banyak memberi pelajaran dan penghidupan kepada saya.

Buat para pendatang, kampung halaman tentu memiliki tempat tersendiri di hati. Lebaran tahun ini saya harus pulang. Yang lama. Sebahagia-bahagianya saya di Jakarta, rasa kangen untuk pulang akhirnya datang juga.