Senin, 23 November 2015

Jajan Pasar dan Jamu Gendong Sosialita

"Enak ya kamu Chris, sering gaul sama artis dan orang-orang kaya," kira-kira begitulah komentar teman saya suatu hari. Kalimat itu meluncur tatkala ia mengetahui saya masih ribet meliput acara sebuah komunitas orang-orang berduit padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saya cuma mesam-mesem membaca Whatsapp itu. Iya sih, ada benarnya tapi juga tidak sepenuhnya benar. Enaknya adalah minimal wawasan kuliner saya nambah dan tidak monoton. Selain menu Warteg Ibu Sunda depan kosan dan pecel lele sebelah Ind*maret, lidah saya jadi termanjakan dengan makanan-makanan enak yang bahkan namanya saja saya kadang belibet mengucapkan.
Bicara soal sosialita dan makanan, ternyata tidak semua makanan yang disantap orang-orang berkantong tebal itu benar-benar makanan elit.

Mereka juga doyan makan makanan "kelas dua" alias makanan yang biasanya dianggap makanan ndeso. Nagasari, apem, clorot (ini apa sih bahasa indonesianya saya belum nemu), lupis, atau gethuk. Tapi namanya juga menyasar segmen berduit, harga dan pengemasan juga berbeda dibandingkan dengan yang biasa saya dan teman-teman semua makan. Suatu hari saya mencari tahu harga untuk satu porsi lupis yang dijual di sebuah toko makanan kelas atas di jantung ibukota. Seporsi makanan tradisional berbahan dasar ketan itu dihargai Rp 9 ribu rupiah. Pun untuk jajanan pasar lain macam pastel dan gethuk, rata-rata harga yang ditawarkan antara Rp 7 ribu - Rp 10 ribu per biji/per porsi.

Ingatan saya tiba-tiba melayang pada satu sudut di Pasar Lempuyangan. Di sana, simbok-simbok dan budhe-budhe penjual lupis dan thiwul dengan senang hati melepas dagangannya dengan harga tak lebih dari Rp 5 ribu per porsi. Saya juga jadi membayangkan sepenggal jalan di selatan Dusun Kembangarum dimana terdapat warung jajan pasar super ramai. Per biji pastel, lumpia, dan kawan-kawannya cukup ditebus dengan harga Rp 1.500 - Rp 2.000 saja. Gerobak jajan pasar yang mangkal tiap pagi di dekat kosan saya juga menjual jajan pasar yang harganya 11-12 dengan Pasar Lempuyangan. Namun berkat kelihaian manusia menguasai ilmu marketing, makanan ndeso itu langsung naik kelas karena dijual di mal dan disemati label toko makanan. Harga bakal melonjak jadi ratusan ribu jika pembeli memesan dalam bentuk tampahan yang berisi aneka macam jajan pasar.

Di satu sisi fakta ini jadi berita baik karena makanan tradisional Indonesia ramai diminati berbagai kalangan, bahkan kalangan atas. Tapi di sisi lain saya jadi mikir betapa mahalnya harga kemewahan yang harus orang kaya bayar untuk menikmati hal-hal yang menurut kita murah dan sederhana. "Jajan pasar yang dijual di toko saya sebagian besar diambil dari industri rumahan," kata sang pemilik toko. Wah, ternyata sumbernya juga sama dengan makanan yang dijual di pasar. Kirain bikinan ahli masak terkenal. Hehe... Tapi apa yang dilakukan ini tentu saja baik untuk memberdayakan home industri. Sayangnya saya lupa bertanya berapa harga yang dia bayarkan ke home industri atas produk-produk jajan pasar ini (tapi kayaknya tidak bakal dijawab juga sih...hehe).



Kali lain saya meliput acara sore-sore, nama acaranya "Jagongan". Undangan yang saya terima mendeskripsikan acara itu sebagai acara ngemil-ngemil santai di museum. Sesampainya di lokasi, para pengunjung disuguhi hamparan tikar dari anyaman bambu. Di tempat itu disediakan berbagai menu yang merakyat semisal nasi pecel dan tempe goreng. Minumannya pun tak kalah tradisional, jamu gendong. Ada pula teh serai dan teh kayu manis. Maka berseliweranlah para pelayan dengan bergelas-gelas kunyit asam, beras kencur, dan kawan-kawan sejenisnya. Para pengunjung, yang di dalamnya terdapat kumpulan istri para direktur BUMN, juga nampak lahap menikmati sepincuk nasi pecel. Buat saya yang wong cilik, ini sama sekali tidak istimewa. Lha wong di tanah Mataram saya sudah sehari-harinya begini. Tetapi hidangan yang menurut saya amat sederhana dan lugu ini rela ditebus para sosialita dengan tiket seharga Rp 150 ribu. Iya, mereka bayar ratusan ribu hanya untuk makan pecel dan minum jamu di atas tikar bambu. Walah...

Saya, yang ilmunya super terbatas ini, jadi tidak paham dengan definisi 'mewah' dan 'elit' menurut kaum berduit. Apakah saking kaya dan modern seseorang, ia semakin tidak sempat menikmati hal-hal murah dan lumrah di dekatnya? Ataukah semakin bergelimang harta maka mahal harga yang harus ia bayar untuk membeli kesederhanaan? Entahlah.


Photo credit: Kaskus.co.id

Jumat, 04 September 2015

Dunia Tanpa Televisi

Sudah hampir empat tahun saya tidak berinteraksi dengan televisi. Terhitung sejak menjadi anak kost pada 2011, hari-hari saya jauh dari kotak ajaib itu. Hubungan mesra antara saya dan televisi hanya terjadi ketika saya pulang ke rumah atau mengunjungi rumah kerabat. Jadi ketika saya mudik, kendali remote control ada di tangan saya. Mungkin semacam balas dendam akibat sok-sokan menghindari televisi selama di kost.

"Mbak! Mbok diganti acaranya jangan yang itu," pinta si adek ketika suatu hari saya menonton televisi di rumah.

"Biarin to, kasihan orang primitif nggak pernah nonton TV," sahut ayah.

Saya cuma bisa ngakak tanpa beranjak dari kursi empuk ruang tengah.

Pada dasarnya saya suka menonton TV, tapi menurut saya tontonan yang ditayangkan makin hari makin tidak menggugah selera. Ada tiga jenis acara yang menjadi favorit saya, berita, acara musik, dan talkshow. Apa lacur, setiap kali menyalakan TV saya hanya menjumpai acara-acara yang tidak sesuai dengan minat saya.

Band-band beraliran musik Melayu mendominasi acara musik pagi. Saya tidak bilang musik Melayu yang mendayu itu tidak bagus. Buktinya saya doyan mendengarkan Fatwa Pujangganya Victor Hutabarat. Yang membuat musik itu tidak bagus adalah cara musisinya tampil dan membawakan lagunya. Sebagai anak yang besar di era 90-an, saya dan teman-teman seangkatan terbiasa mendengarkan lagu dengan lirik yang puitis dan dalam. Nama-nama seperti Dewa 19, Padi, Sheila on 7, Jikustik, atau Elemen menjadi jaminan mutu sebuah lagu. Bahkan hingga hari ini lagu-lagu jadul mereka tetap enak untuk dinikmati.

Bandingkan dengan band-band yang muncul saat ini. Kemunculan band aliran melayu satu selalu diikuti kemunculan band lain yang sejenis, sampai kami tak sempat mengingat namanya. Namun bagi kami generasi 90an, penampilan band saat ini tidak memuaskan selera musik kami. Lirik lagunya jauh dari kata puitis. Coba bandingan "hamparan langit maha sempurna bertahta bintang-bintang angkasa, namun satu bintang yang kupuja teruntai turun menyapaku" dengan "yank coba kau jujur padaku, yank foto siapa di dompetmu, yank kok kamu diam membisu, sayank jawab atau aku pergi sayank".

Hehe...



Lebih baik main ke luar daripada menonton tontonan palsu. Sumber gambar: speckyboy

Generasi yang beranjak remaja pada 2006 ke atas juga disuguhi girlband dan boyband Indonesia rasa Korea. Dengan penampilan glamour dan seragam, mereka menghentak layar kaca. Menyanyi mereka rombongan seperti mau naik haji. Setiap lagu yang dibawakan selalu disertai dengan koreografi yang membosankan. Tentu saja kualitas boyband dan girlband Indonesia masih jauh dari kualitas boyband dan girlband asal negeri ginseng.

Di Korsel, rekruitmen anggota boyband/girlband dilakukan sejak mereka masih remaja. Setelah berhasil lolos, para calon bintang itu ditraining bertahun-tahun mengenai musik, koreografi, dan akting. Setelah dinilai matang, barulah agensi berani mengorbitkan mereka. Hasilnya, mereka tak hanya menjadi penyanyi namun juga entertainer profesional yang mampu menyuguhkan hiburan memesona kepada para penggemarnya. Bandingkan dengan proses pembentukan boyband dan girlband ala-ala di Indonesia.

Susah rasanya kalau hari ini kita diminta menyebutkan grup vokal yang bisa seklasik Trio Libels, AB Three, atau RSD. Era memang terus bergulir. Setiap seniman punya penggemarnya masing-masing.

Untungnya ada Youtube.

Lewat Youtube saya masih bisa menyaksikan penampilan musisi-musisi lawas. Saya juga dipuaskan dengan penampilan musisi masa kini dengan musikalitas tinggi namun jarang muncul di TV. Lewat Youtube, saya bisa menikmati penampilan apik Tulus, Judika, atau Teza Sumendra. Saya juga bisa sepuasnya menonton Sounds from The Corner secara maraton.

Dunia tanpa televisi rupanya juga berhasil menjauhkan saya dari 'ghibah artis'. Sebagaimana kita tahu, tayangan infotainment kian menjamur di televisi dari pagi hingga sore. Sayangnya infotainment di Indonesia mayoritas sudah jauh bergeser dari kata 'informatif'. Infotainment malah konsisten membuka kebobrokan artis dan selebritas hingga kerak terbawah. Media lebih doyan memberitakan pasangan yang kawin cerai ketimbang prestasi seniman Indonesia di mancanegara.

Wajah-wajah yang hilir mudik di layar kaca seolah-olah berlomba mencari ketenaran lewat sensasi, bukan prestasi. Pernikahan pasangan artis bahkan 'harus banget' disiarkan seharian penuh di televisi, seolah-olah acara itu semacam royal wedding yang wajib diketahui rakyat se-Indonesia. Tidak cukup hanya pernikahan, prosesi kelahiran sang jabang bayi juga 'harus banget' disiarkan live. Tempo hari seorang penyanyi dangdut terbentur skandal foto topless di akun Instagramnya. Dengan mimik muka panik, ia mengaku  kalau Instagramnya dibajak. Terlepas dari jujur tidaknya pengakuan sang artis, haruskah melakukan hal serendah itu untuk mencapai pucuk tertinggi?

Menonton televisi tidak lagi menjadi kegiatan yang mengasyikkan manakala setiap menekan tombol power di remote yang muncul adalah sinetron percintaan ABG labil. Sinetron yang tayang di jam-jam prime time malah menyuguhkan drama romantika manusia setengah serigala yang jauh dari kata mendidik. Ada pula sinetron yang melabeli diri sebagai 'sinetron religi'. Namun nampaknya sang sutradara malas menggali ilmu agama lebih dalam sebelum memproduksi sinetron.

Maka terjadilah alur klise sinetron religi dimana selalu ada tokoh yang sangat lemah namun religius dan berhadapan dengan tokoh super jahat yang tidak mengenal Tuhan. Semua karakter tokoh digambarkan hitam atau putih tanpa adanya konflik berarti yang menguras emosi. Di akhir cerita, sang tokoh baik selalu menang sedangkan si jahat bertobat atau justru mati.

Ada lagi, kalau rating sinetron ternyata bagus maka stasiun tivi akan terus menayangkan sinetron tersebut setiap hari. Tak peduli episode sudah mencapai ratusan (bahkan ribuan) atau alur cerita melenceng jauh dari judul.

Kami memang butuh tontonan yang mendidik. Tapi jika yang dihadapkan pada kami adalah sinetron religi yang kebanyakan hanya mengandalkan kecantikan/ketampanan pemain namun miskin eksplorasi, pesan apa yang ingin disampaikan?

Keluarga cemara, Si Doel Anak Sekolahan, atau Satu Kakak Tujuh Ponakan bukanlah sinetron religi. Namun setiap episodenya selalu membawa pesan moral. Baik dari dialog yang keluar dari mulut para pemain maupun alur cerita yang dalam tapi tetap sederhana. Kita  patut berterima kasih kepada Dedi Mizwar yang setiap Ramadhan tak pernah absen menyuguhkan sinetron Para Pencari Tuhan. PPT seakan menjadi oase di tengah serbuan sinetron-sinetron yang hanya menonjolkan materialisme dan tampang keren para pemain.

Apa kabar ya pola pikir adik-adik kita yang masih SD jika setiap hari disuguhkan sinetron yang mengumbar aurat, materialisme, dan kisah cinta manusia setengah serigala?

Menjamurnya tayangan televisi yang demikian parahnya membuat sejumlah stasiun televisi kena semprit KPI. Acara dagelan dan musik yang terlalu banyak mengumbar hinaan fisik dan komedi slapstick sempat dihentikan penayangannya sementara. Sinetron yang memamerkan kemesraan berlebih juga kena sentil KPI.

Tapi akan sampai kapankah tontonan tidak bermutu itu terus wara-wiri di layar kaca? Sebagai orang awam saya masih belum paham, apakah media yang membentuk selera masyarakat? Atau sebenarnya masyarakatlah yang secara tidak sadar menggiring media untuk terus menerus menyiarkan tontonan tak bermutu?

Kondisi pertelevisian yang compang-camping dalam menyuguhkan hiburan membuat saya masih betah menjalani hari tanpa televisi. Tidak semua stasiun televisi buruk sih. Masih ada NET dan Kompas TV yang layak tonton tanpa menyebabkan sakit mata dan sakit jiwa. :D

"Kamu ini lho suka menyiksa diri sendiri, tinggal beli tivi murah ada kok yang harganya di bawah sejuta," saran seorang teman.

Kebetulan saya sedang tidak menyiksa diri sendiri. Lagipula saya tidak pernah kesepian meski hidup tanpa televisi. Saya dikelilingi teman-teman yang menyenangkan dan ritme kerja yang dinamis. Bisa dikatakan setiap akhir pekan saya dan teman-teman selalu punya agenda menarik yang menjauhkan kami dari televisi. Justru dengan tidak adanya televisi, saya dan teman-teman satu kos lebih akrab karena sering mengobrol. Dan yang paling penting, saya tidak perlu mengeluarkan tambahan biaya listrik kos karena membawa televisi.

Hehe..

Saya tidak tahu kapan hati saya akan tergerak membeli televisi. Bisa dalam waktu dekat atau masih lama. Atau mungkin besok saja kalau saya sudah menikah dan tinggal bersama suami. Saya juga tidak tahu. Kalaupun saat ini saya disuruh membeli televisi, saya masih pikir-pikir dulu. Tapi kalau ada yang berbaik hati memberi, tentu saja dengan senang hati saya terima. :P

Selasa, 04 Agustus 2015

Sketsa dari Pantura

Mobil berjalan lambat di atas aspal panas Pantura. Waktu menunjukkan pukul 12.35 yang artinya sudah lebih dari 12 jam kami menempuh perjalanan. Saya duduk di kursi belakang dan sibuk berselancar di dunia maya untuk membunuh waktu. Raul dan temannya duduk di bangku depan. Dua warga Spanyol itu berkali-kali melempar pertanyaan yang sama kepada sopir: Berapa jam lagi kita tiba di Jogja?

Pria di balik kemudi selalu menggelengkan kepala setiap kali dua warga asing itu resah. Sang sopir sendiri juga tak tahu kapan rombongan kami akan tiba di Kota Gudeg. Mobil kami berjalan amat pelan di antara mobil, motor, bus, dan bahkan truk. Lebaran tinggal dua hari lagi dan ratusan ribu pemudik merangsek ke jalan demi pulang ke kampung halaman. Inilah yang disebut sebuah harian di ibukota dengan headline: RI's Biggest Exodus Begins.

Mobil Nissan yang membawa enam penumpang dan satu sopir ini beranjak dari Jakarta pukul 12 malam. Dua belas jam kemudian, dengan tertatih-tatih, kami sampai di Brebes. Kaki saya mulai bengkak karena kurang bergerak.

Dua turis Spanyol, yang tak kebagian tiket pesawat ke Jogja, melempar pandangan heran ke arah jalan. Teman Raul mengeluarkan smartphonenya dan menjepret pemandangan para pemudik motor. Bagi dua warga asing itu, orang-orang Indonesia adalah orang pemberani. Orang Indonesia rela mengendarai motor sarat muatan dan mengajak anak istrinya menempuh perjalanan jauh. Mungkin bagi Raul dan kawannya, mudik adalah kegiatan yang absurd.
 

Hembusan dingin dari AC rupanya tak mampu meredakan kegalauan kami. Apalagi sejak berangkat kami belum sekali pun berhenti makan bahkan sekadar untuk menyantap sahur. Beruntung saya membawa bekal nasi sehingga meski sopir tidak berhenti di rest area saya tetap bisa sahur.

Sopir tak henti-hentinya menenggak Red Bull sambil bersungut-sungut. Saya hitung sejak berangkat hingga saat ini ia menghabiskan empat botol. Empat botol minuman berenergi tanpa tidur dan makan nasi selama 12 jam, buat saya ini seperti upaya menyakiti diri sendiri.

Pukul 12.44 sopir nampaknya benar-benar lelah. Akhirnya ia mengarahkan mobil ke warung sate. "Makan dulu mister," kata pak sopir sambil menguncupkan telapak tangan dan mengarahkan ke mulutnya sendiri. Aroma sate kambing langsung menyeruak ketika kami turun dari mobil.

Warung sate sederhana yang kami singgahi ramai didatangi para pemudik. Rata-rata para pemudik tidak berpuasa karena tidak kuat menahan hawa panas Pantura. Menembus kemacetan di kala puncak arus mudik memang sangat menguras tenaga. Saya, yang memutuskan untuk tetap berpuasa, memesan seporsi sate kambing plus nasi untuk berbuka.

"Berapa?" tanya saya ketika pelayan menyodorkan pesanan.
"Empat puluh empat ribu mbak," jawab si pelayan.
"Apa?" mata saya terbelalak mendengar harga yang fantastis itu.
"Seporsi sate empat puluh ribu, nasinya empat ribu," kata pelayan tak acuh.

Istirahat siang selesai, sopir kembali menggiring para penumpang masuk ke dalam mobil. Raul mengendikkan bahu kepada kawannya seolah keberatan jika harus menenggelamkan diri lagi ke dalam kemacetan. Sebaliknya, dua asisten rumah tangga yang duduk di sebelah saya tak tampak mengeluh. Bagi mbak-mbak itu, segala cara pantas dibayar asalkan bisa berlebaran di kampung halaman. Sedangkan bagi Yanto, penumpang yang sehari-hari bekerja menjaga toko di Roxy,  macet pun tak masalah asalkan H-1 ia bisa sampai di rumah.

"Supaya masih ada waktu mengecat rumah sebelum Lebaran, bapak dan simbok sudah tidak kuat lagi kalau kerja yang berat-berat," ujar Yanto.

Rute Brebes-Pemalang-Pekalongan benar-benar jadi rute yang menguji kesabaran. Pemberitaan bahwa ekonomi Indonesia melambat sehingga daya beli menurun tidak terbukti di ruas Pantura menjelang Lebaran. Bukan sekali dua kali saya melihat mobil yang masih mengkilap dengan plat nomor berwarna putih berseliweran. Jumlah mobil semakin membeludak sementara penambahan infrastruktur tak sebanding dengan laju pertumbuhan kendaraan.

Sekitar pukul sembilan malam akhirnya kami lepas dari Pekalongan dan masuk Weleri. Semua orang di dalam mobil menunjukkan raut wajah yang lelah. Namun wajah yang lelah itu kembali segar setelah kami berhenti makan malam di Temanggung. Pertama, makan memang mengembalikan energi. Dan kedua, Jogjakarta sudah semakin dekat. Saya melahap sate kambing dengan rakus karena buka puasa tadi hanya meminum air putih dan agar-agar. Sayangnya saya harus menelan kekecewaan karena separuh dari sate adalah lemak yang sudah tak nikmat jika disantap dingin. Ditambah lagi nasi yang saya terima sangat keras dan membuat saya melotot waktu menelannya.

Makan malam usai dan perjalanan kembali dilanjutkan. Akhirnya setelah menempuh perjalanan 24 jam, mobil kami tiba di Yogyakarta. Berhari-hari kemudian ketika saya sudah di Jakarta lagi, seorang teman bertanya, "Tahun depan masih mau mudik pakai travel?"

Senin, 29 Juni 2015

Rindu yang Mengganggu

Ramadhan sudah memasuki hari kedua belas. Pekan lalu di seberang telepon, ibu kembali bertanya kapan saya pulang. Saya pun (kembali) melontarkan jawaban yang sama: belum tahu karena masih menunggu jadwal libur kantor.

Sudah delapan bulan saya tidak pulang. Untuk jarak seukuran Jakarta - Yogyakarta dan dengan menyandang status belum berkeluarga, sesungguhnya 'pulang ke rumah' bukanlah sesuatu yang rumit. Kecuali urusan pekerjaan, tidak ada beban berarti yang menghalangi saya untuk pulang sewaktu-waktu.

Sayangnya sebagai anak baru saya belum mendapat jatah cuti. Jadwal liputan, meski tidak setiap hari, tapi mengharuskan para reporter untuk stand by sewaktu-waktu. Anak-anak media pasti tahu bagaimana rasanya ketika sedang asyik bersantai tahu-tahu redaktur yang tercinta memberi order liputan. Maka dengan jatah libur yang singkat dan terbatas, saya jadi malas untuk pulang ke rumah.

Jatah libur lebih sering saya gunakan untuk berkumpul dan jalan bersama teman-teman. Mumpung masih free tidak ada salahnya kami rajin mengeksplor tempat-tempat menarik di Jakarta dan sekitarnya.

Tapi sebahagia-bahagianya saya di Jakarta, rasa kangen untuk pulang akhirnya datang juga. Sudah sejak dua bulan lalu saya kepingin buru-buru menghirup lagi hawa Yogyakarta. Saya kangen rumah sederhana di kaki Gunung Merapi tempat keluarga kecil kami tinggal. Saya kangen suara kokok ayam di pagi hari yang diiringi hawa dingin menusuk kulit.

Saya rindu jalanan rindang di Kotabaru-Lempuyangan-Gayam, tempat di mana saya menghabiskan dua puluh tahun pertama dalam hidup. Saya ingin merasakan lagi jajanan Yogyakarta yang serba murah dan meriah.


Sudut di Yogyakarta yang instagramable dan paling banyak diabadikan

Yogyakarta memang telah berganti rupa. Ia tak lagi menjadi puteri Keraton yang ayu dan sederhana. Tubuhnya kini telah digantungi perhiasan-perhiasan gemerlap berupa deretan mall-mall mewah, hotel berbintang, dan tempat hiburan malam. Yogyakarta perlahan menjelma menjadi gadis metropolitan. Meski demikian masih banyak sudut-sudut bersahaja di Yogyakarta yang menawarkan nostalgia.

Tapak kaki kuda masih setia beradu dengan aspal Malioboro, segelas es teh masih bisa ditebus dengan harga Rp 3 ribu rupiah, dan kita dengan betahnya ngetem lama di angkringan walau hanya berbekal nasi kucing dan sate usus. Betapa ngangeninya kesederhanaan di Yogyakarta.


Siomay Kotabaru, salah satu kuliner enak dan ramah kantong di Kota Pelajar

Di Jakarta semua serba bayar dan serba mahal. Untuk membeli sebotol minuman dingin di convenience store saja kita ditarik jatah parkir Rp 2 ribu. Tetapi bagaimanapun, kota ini adalah tempat saya mencari sesuap nasi. Si bijak berkata jangan meludah di sumur yang airnya kita minum. Jakarta, dengan semua sisi gelap dan terangnya sudah banyak memberi pelajaran dan penghidupan kepada saya.

Buat para pendatang, kampung halaman tentu memiliki tempat tersendiri di hati. Lebaran tahun ini saya harus pulang. Yang lama. Sebahagia-bahagianya saya di Jakarta, rasa kangen untuk pulang akhirnya datang juga.

Senin, 15 Juni 2015

Separuh Jalan

Ancaman kenyamanan adalah ketumpulan. itu yang saya rasakan akhir-akhir ini. Di kala frekuensi liputan tidak sepadat dulu dan banyak waktu longgar, saya merasa ilmu saya justru tidak berkembang. Kehidupan yang terlalu santai ternyata membosankan. Gawatnya ketumpulan ini mengancam sederet target yang sudah dengan semangat saya kumpulkan di awal tahun.

Waktu tak pernah mau menunggu. Tahu-tahu 2015 sudah separuh jalan dan kurang dari seminggu memasuki bulan puasa. Dalam sebuah sambungan telepon dengan seorang sahabat di pengujung 2014, kami berdua sama-sama menceritakan target masing-masing di tahun yang akan datang. Kami saling menyemangati. Namun juga saling mencaci. Kita pasti sepakat manusia tidak hanya tumbuh dari pujian.
Picture taken from here

Enam bulan berlalu dan sudah saatnya menengok lagi apa-apa yang belum dikerjakan di paruh kedua tahun kambing ini. Dia sudah meraih beberapa target, saya pun demikian.

Ada target-target mahapenting semisal karier, tabungan, atau (ehm...) cinta. Ada juga bahasan penting-nggak-penting soal tingkat kerajinan berolah raga, makanan enak apa yang harus dicoba, sampai berapa kali terlambat bangun pagi. Menaruh harapan adalah hal yang sangat manusiawi.

Apa gunanya target dan harapan? Tentu saja agar jadi orang yang selalu maju. Saya ingin jadi orang yang tahu apa yang saya mau. Sepuluh tahun dari sekarang saya harus tahu akan menjadi orang yang seperti apa dan menjalani kehidupan yang bagaimana. Terlalu muluk? Bisa ya bisa tidak. Kalau kata ibu, saya ini orangnya terlalu simetris. Hihihi...

Yang namanya cita-cita, setiap orang pasti punya.

Dengan menaruh harapan kita jadi tahu di jalur mana kita harus berjalan.

Saya pribadi bukan orang yang suka memberi motivasi buat orang lain. Saya orang yang selalu menolak jika disodori buku-buku motivasi dengan cerita-cerita pendek penuh hikmah. Saya juga tidak suka menonton video-video para motivator. Saya lebih suka membaca biografi orang terkenal. Sebab apa yang dituangkan dalam sebuah biografi adalah hal konkret yang benar-benar terjadi. Agak sinis memang tapi menurut saya jejalan kata-kata mutiara dari motivator tidak akan berpengaruh apa-apa. Karena, yang paling penting adalah niat dari dalam sendiri.

Masih ada enam bulan sebelum 2015 mencapai pucuknya.



Keep on writing~

Senin, 25 Mei 2015

Secuil Surga di Utara Jakarta


Suatu hari surga sedang bocor. Langit meneteskan bulir-bulir air dari sungai di surga. Tetesan-tetesan air tersebut jatuh tak beraturan di Laut Jawa dan menjelma menjadi pulau-pulau kecil. Begitu banyaknya tetesan air yang jatuh hingga terbentuklah gugusan pulau yang kini dikenal dengan Kepulauan Seribu.

Itulah sebait deskripsi tentang Kepulauan Seribu yang pernah saya baca. Sang penulis nampaknya benar-benar terkesima akan keindahan Kepulauan Seribu hingga menyamakannya dengan tetesan air surga. Untuk membuktikannya, beberapa waktu lalu saya dan teman-teman menyempatkan diri mengintip keindahan kepulauan di utara Jakarta itu. Dalam sebuah open trip selama dua hari satu malam, kami menghabiskan waktu mengeksplorasi berbagai pulau di Kepulauan Seribu.

Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Muara Angke. Kapal yang kami tumpangi berangkat sekitar pukul 08.00. Tujuan kami adalah Pulau Kelapa yang ditempuh selama tiga jam perjalanan. Selama satu jam pertama kami masih disuguhi perairan yang penuh limbah dan sampah. Mustahil kami dapat menyelam di laut sekotor ini.

Namun lamanya perjalanan sebanding dengan keindahan yang kami dapatkan. Menjelang pukul 10.00 suasana sudah mulai berubah. Warna air laut yang tadinya hitam kini berangsur membiru. Sejauh mata memandang kami disuguhi permukaan air laut yang tenang dan bersih. Sesekali nampak bintik kecil di kejauhan tanda adanya pulau kecil tak jauh dari kapal kami.

Begini kira-kira penampakan pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu

Tepat pukul 11.00 rombongan menginjakkan kaki di Pulau Kelapa. Kami memperoleh sebuah rumah kosong dengan dua kamar tidur sebagai homestay. Rombongan disambut makan siang berupa sayur asem, ikan kembung, dan sambal. Satu teko besar es kelapa muda tak ketinggalan nangkring di meja makan. Usai melahap santap siang dan sholat, kami digiring menuju lokasi snorkeling.

Untuk menuju lokasi snorkeling, kami diajak naik kapal yang lebih kecil. Teriknya matahari tak menyurutkan semangat kami, para wisatawan, untuk mengarungi lautan. Lokasi pertama snorkeling adalah Pulau Macan. Awalnya saya takut-takut menceburkan diri ke laut. Meski sudah memakai jaket pelampung, tetap saja saya paranoid. Air laut yang berwarna biru tua menandakan betapa dalamnya perairan di situ. Menurut Pak Nurdin yang jadi guide kami, kedalaman airnya antara 5-10 meter. Masih cetek sebenernya untuk ukuran menyelam. Memang dasar saya saja yang penakut.

Tetapi akhirnya saya berani juga terjun ke laut. Dan begitu membenamkan kepala ke dalam air, terlihatlah keindahan bawah laut Kepulauan Seribu. Ikan-ikan seukuran ibu jari yang saya tidak tahu namanya hilir mudik berenang dalam gerombolan-gerombolan kecil. Ikan-ikan lain yang lebih besar berenang sendirian di antara terumbu karang. Berkali-kali saya mencoba menyentuhkan tangan ke arah mereka namun selalu meleset karena geraknya yang gesit.

Puas menyelami perairan Pulau Macan, kami lalu bergeser ke lokasi kedua yakni ke perairan dekat Pulau Bintang. Perairan Pulau Bintang menawarkan pemandangan bawah laut yang lebih eksotis. Ikan-ikan yang berenang lebih banyak dan lebih berwarna-warni. Saya sengaja melepas fin (kaki katak) saat snorkeling di sini. Daan...ternyata itu pilihan salah karena kaki saya terluka akibat tergores-gores tajamnya terumbu karang. :p

Di perairan dekat Pulau Bintang
Semakin ke utara ekosistem yang hidup semakin membikin kita berdecak kagum. Kalau di utara Jakarta saja kita sudah terkagum-kagum, apalagi jika kita main ke Bunaken atau Wakatobi ya? Bisa-bisa ogah pulang. Sayangnya di dua lokasi snorkeling tersebut, saya mendapati banyak terumbu karang yang 'terluka'. Mungkin terumbu-terumbu karang itu sering dijadikan pijakan oleh para wisatawan tatkala menyelam. :(

Usai ber-snorkeling ria, kami menuju ke sebuah pulau cantik (yang lagi-lagi saya lupa nama pulaunya). Di pulau ini kami dibebaskan melakukan aktivitas apa saja. Mau berenang, main ayunan, makan, gitaran, atau main voli sekalian, terserah. Bagi yang perutnya keroncongan bisa membeli makanan di warung yang ada di situ. Tapi jangan banyak maunya ya karena yang tersedia hanya mie instant, gorengan, roti, dan minuman-minuman sachet. :)

Pukul 17.00 kami beranjak untuk kembali ke Pulau Kelapa. Sepanjang perjalanan, kami dimanjakan dengan pemandangan langit sore yang indah. Langit perlahan memerah tanda siap mengantar matahari pulang ke rumah. Malamnya, para wisatawan disuguhi hidangan seafood bakar. Kami berlomba menyantap cumi-cumi dan udang sepuasnya. Yeay!

Esok paginya, kami kembali mengangkat sauh menuju Pulau Bulat. Konon kabarnya pulau ini adalah milik keluarga mantan Presiden Soeharto. Sebuah helipad menjadi petunjuk bahwa pulau ini menjadi destinasi keluarga Cendana jika ingin berlibur. Tidak ada yang istimewa di pulau itu. Tetapi ada satu spot istimewa di dekat dermaga yang manis dijadikan tempat berfoto. Spot itu berupa bangku taman di ujung dermaga. Bangku itu hanya diletakkan sendirian membelakangi laut. Kurang melankolis apa coba?

Setelah mengelilingi Pulau Bulat kami kembali ke Pulau Kelapa dan bersiap-siap pulang ke Jakarta. Perjalanan singkat ini cukup melelahkan tetapi semua sebanding dengan kepuasan yang didapat. Soal biaya, saya merogoh kocek Rp 350 ribu untuk open trip selama 2 hari 1 malam. Karena berlibur di kala peak season maka saya dan teman-teman harus rela berdesak-desakan dengan banyak rombongan di kapal yang sempit. Di hari keberangkatan kami masih beruntung karena bisa duduk lesehan di lambung kapal.

Tetapi ketika pulang, kami datang terlambat ke dermaga sehingga mau tak mau pantat ini didudukkan di kapal bagian samping yang sejatinya bukan tempat penumpang. Bagian tersebut adalah gang sempit yang berada di kapal bagian luar. Alhasil saya harus menahan panas disiram sinar matahari bersuhu 30 derajat Celcius selama tiga jam. Maklum, kapal berangkat dari dermaga Pulau Kelapa saat tengah hari, tepat pukul 12.00.

Anyway, saya tetap menikmati perjalanan mengesankan ini. Alam Indonesia sudah bermurah hati memberikan banyak keindahan dan kesuburan. Amat disayangkan kalau kita tidak pernah menyempatkan waktu menikmatinya.

Minggu, 17 Mei 2015

Siapa yang Paling Cantik?

Indonesia bukan negara Islam. Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Maka menolak ajang kontes kecantikan seperti Miss Universe, Miss World, atau Putri Indonesia sepertinya adalah hal yang sia-sia. Karena, di samping alasan adat ketimuran isu-isu yang diangkat dalam penolakan kontes kecantikan biasanya adalah isu agama.

Wanita dilarang memamerkan aurat, wanita dilarang berlenggak-lenggok, dan wanita dilarang menjadi barang pajangan adalah sudut pandang Islam. Sebagai negara yang majemuk, wajar jika isu-isu semacam itu tidak mempan menghentikan diselenggarakannya ajang kecantikan. Tidak semua orang Indonesia beragama Islam. Dan lagi, tidak semua Muslim memiliki pandangan yang sama. Maka tak heran di kala sebagian Muslim menolak kontes kecantikan, sebagian Muslim lain yang berpandangan sekuler tengah sibuk menjadi panitia penyelenggara dan peserta.

Sayangnya, kita umat Islam nampaknya justru malah menduplikasi dan memodifikasi ajang pemilihan ratu kecantikan agar terlihat lebih Islami. Munculnya kontes kecantikan Muslimah adalah hal yang patut dipertanyakan. "Miss Muslimah itu cuma Miss Universe dikasih jilbab!" ujar seorang teman saya dengan nyinyir. Pernyataan itu tidak keluar dari mulut seorang aktivis muslim apalagi yang berjilbab lebar. Teman saya juga tidak rajin-rajin amat tadarusan. Dia hanya muslimah biasa yang sama awamnya seperti saya. Tetapi ia termasuk yang geli melihat para muslimah diperlombakan di atas panggung.

Ya, buat saya (dan mungkin beberapa orang lain di luar sana) inti dari ajang miss-miss-an atau putri-putrian adalah mencari wanita-wanita cantik. Dan kehadiran kontes kecantikan Muslimah pun bagaikan adik kandung Miss Universe dan Miss World. Hanya yang satu 'pakai bungkus' dan yang satu 'tidak pakai bungkus'. Kalaupun ada konsep 3B (brain, beauty, behaviour) maka itu adalah kelihaian penyelenggara agar kontes semacam ini lebih bisa diterima. Konsep 3B kemudian diadopsi oleh ajang kecantikan Muslimah lewat 3S (shalihah, smart, stylish). Akh, pantaskah ke-shalihah-an dikonteskan? Jikalau ya, apa standarnya? Dari mana kita tahu seseorang lebih shalihah daripada yang lain sedangkan apa yang tersimpan di dalam hati hanya Allah yang tahu?

Jika standar shalihah adalah berjilbab, maka betapa dangkalnya standar itu karena kita hanya menilai orang dari tampilan luarnya saja. Jika standarnya bisa mengaji dan hafal al-qur'an, anak-anak SD dan SMP juga bisa mengaji dan menghafal. Tetap saja penilaian menitikberatkan pada kecantikan dan keindahan fisik. Kita tidak melihat wanita berperawakan misal (maaf) pendek, gendut, atau berwajah sangat biasa bisa berjalan di atas panggung penjurian. Semua yang tampil pada kontes kecantikan adalah mereka yang berwajah cantik/manis, tinggi semampai, dan berkulit bersih. Padahal di luar sana banyak kaum hawa memiliki pemikiran brilian namun kondisi fisiknya tidak semulus mereka yang berlenggak-lenggok di atas panggung. Banyak wanita-wanita berpenampilan ala kadarnya bisa berprestasi dan memberikan kontribusi signifikan bagi lingkungan namun tidak terekspos gemerlapnya panggung kontes. Kondisi ini seolah menegaskan hanya wanita cantik saja yang diizinkan menjadi duta ini dan itu.

Foto diambil dari sini


Pagelaran kontes kecantikan muslimah pada akhirnya bermuara pada kapitalisme. Sederetan sponsor sudah menyokong perhelatan kontes kecantikan muslimah sejak ajang ini dipromosikan. Mulai dari kosmetik hingga busana muslim (yang mahal dan tidak syar'i). Mereka yang berhasil memenangkan lomba ditunjuk menjadi brand ambassador produk sponsor. Kontes kecantikan pada hakikatnya adalah meraup keuntungan bisnis. Kampanye agar wanita berjilbab? Please, masih banyak cara lain untuk mengajak wanita sadar jilbab selain lewat ajang kecantikan. Kontes kecantikan justru bisa memicu lahirnya kasta-kasta dalam dunia per-muslimah-an. Kasta antara yang cantik, pintar, dan (dianggap) shalihah dengan kasta muslimah yang serba biasa dan sedang-sedang saja. Hati manusia siapa yang tahu, ajang kecantikan musimah bisa jadi malah menjerumuskan wanita pada sifat sombong dan berlebih-lebihan.

Pemilihan ratu kecantikan tidak berkorelasi dengan pendapatan negara. Apakah dengan Indonesia menjuarai kontes kecantikan muslimah lalu serta merta sektor pariwisata ikut terdongkrak? Atau jika boleh lebih ekstrim lagi, sejak Indonesia ambil bagian dalam Miss World dan Miss Universe seberapa melejitkah pamor pariwisata Tanah Air di mata dunia?

Pangkal dari keberhasilan sektor pariwisata tidak berada pada seberapa berkilaunya wanita Indonesia di mata dunia. Kemauan pemerintah menyediakan infrastruktur pariwisata yang  memadai jauh lebih penting dalam memajukan sektor pariwisata. Keberadaan sumber daya manusia yang mumpuni di bidang seni dan budaya Indonesia adalah aset paling berharga yang harus diperhatikan pemerintah.

Kembali ke kontes kecantikan muslimah, budaya apa yang tengah dikampanyekan ajang ini sementara Rasulullah melarang kaumnya untuk berlebih-lebihan? Saya sangat tidak berkompetensi dalam bidang agama tetapi izinkan saya membagi dua hadis populer yang pasti sudah sering kita dengar. Mari kita mengingat sabda nabi yang satu ini, "Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli orang-orang dengannya. Dan wanita-wanita yang memakai baju tapi telanjang, berjalan dengan menggoyang-goyangkan pundaknya dan berlenggak-lenggok. Kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak akan mendapat wanginya, padahal sungguh wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian." (HR Muslim). Atau sabda yang ini, "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka." (HR Abu Daud).

Maaf bukan bermaksud menggurui, tetapi bukankah kontes kecantikan jelas bukan budaya yang dianjurkan oleh Islam? Sekali lagi, saya hanyalah orang awam. Tetapi melihat sederetan muslimah dipertontonan dan dilombakan sambil mereka memamerkan senyum yang seragam, rasanya tak tahan untuk tidak berkomentar. Ke mana jati diri kaum muslim? Sebegitu mudahnyakah terpengaruh budaya-budaya kapitalis yang esensi keislamannya masih dipertanyakan? Wanita shalihah yang sebenarnya tidak akan membiarkan dirinya dieksploitasi dan dinilai para juri. Karena, juri yang sebenarnya hanyalah Dia Sang Maha Pencipta.


-correct me if i'm wrong-